PESAN-PESAN UNTUK ISTERI


Oleh
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq
http://www.almanhaj .or.id/content/ 2126/slash/ 0

Anas berkata, “Para Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika
menyerahkan seorang wanita kepada suaminya, maka mereka memerintahkan isteri
agar berkhidmat kepada suaminya dan memelihara haknya.”

Ummu Humaid berkata, “Para wanita Madinah, jika hendak menyerahkan seorang
wanita kepada suaminya, pertama-tama mereka datang kepada ‘Aisyah dan
memasukkannya di hadapannya, lalu dia meletakkan tangannya di atas kepalanya
seraya mendo’a-kannya dan memerintahkannya agar bertakwa kepada Allah serta
memenuhi hak suami”[1]

‘Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berwasiat kepada puterinya, “Janganlah
engkau cemburu, sebab itu adalah kunci perceraian, dan janganlah engkau suka
mencela, karena hal itu menimbulkan kemurkaan. Bercelaklah, karena hal itu
adalah perhiasan paling indah, dan farfum yang paling baik adalah air.”

Abud Darda’ berkata kepada isterinya, “Jika engkau melihat-ku marah, maka
redakanlah kemarahanku. Jika aku melihatmu marah kepadaku, maka aku
meredakanmu. Jika tidak, kita tidak harmonis.”

Ambillah pemaafan dariku, maka engkau melanggengkan cintaku.
Janganlah engkau berbicara dengan keras sepertiku, ketika aku sedang marah
Janganlah menabuhku (untuk memancing kemarahan) seperti engkau menabuh
rebana, sekalipun
Sebab, engkau tidak tahu bagaimana orang yang ditinggal pergi

Janganlah banyak mengeluh sehingga melenyapkan dayaku
Lalu hatiku enggan terhadapmu; sebab hati itu berbolak-balik

Sesungguhnya aku melihat cinta dan kebencian dalam hati
Jika keduanya berhimpun, maka cinta pasti akan pergi

‘Amr bin Hajar, Raja Kindah, meminang Ummu Ayyas binti ‘Auf. Ketika dia akan
dibawa kepada suaminya, ibunya, Umamah binti al-Haris menemui puterinya lalu
berpesan kepadanya dengan suatu pesan yang menjelaskan dasar-dasar kehidupan
yang bahagia dan kewajibannya kepada suaminya yang patut menjadi
undang-undang bagi semua wanita. Ia berpesan:

“Wahai puteriku, engkau berpisah dengan suasana yang darinya engkau keluar,
dan engkau beralih pada kehidupan yang di dalamnya engkau naik untuk orang
yang lalai dan membantu orang yang berakal. Seandainya wanita tidak
membutuhkan suami karena kedua orang tuanya masih cukup dan keduanya sangat
membutuh-kanya, niscaya akulah orang yang paling tidak membutuhkannya.
Tetapi kaum wanita diciptakan untuk laki-laki, dan karena mereka pula
laki-laki diciptakan.

Wahai puteriku, sesungguhnya engkau berpisah dengan suasana yang darinya
engkau keluar dan engkau berganti kehidupan, di dalamnya engkau naik kepada
keluarga yang belum engkau kenal dan teman yang engkau belum terbiasa
dengannya. Ia dengan ke-kuasaannya menjadi pengawas dan raja atasmu, maka
jadilah engkau sebagai abdi, niscaya ia menjadi abdimu pula. Peliharalah
untuknya 10 perkara, niscaya ini akan menjadi kekayaan bagimu.

Pertama dan kedua, tunduk kepadanya dengan qana’ah (merasa cukup), serta
mendengar dan patuh kepadanya.

Ketiga dan keempat, memperhatikan mata dan hidungnya. Jangan sampai matanya
melihat suatu keburukan darimu, dan jangan sampai mencium darimu kecuali
oroma yang paling harum.

Kelima dan keenam, memperhatikan tidur dan makannya. Karena terlambat makan
akan bergejolak dan menggagalkan tidur itu membuat orang marah.

Ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dan memelihara keluarga dan
kerabatnya. Inti perkara berkenaan dengan harta ialah menghargainya dengan
baik, sedangkan berkenaan dengan keluarga ialah mengaturnya dengan baik.

Kesembilan dan kesepuluh, jangan menentang perintahnya dan jangan
menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya, maka
hatinya menjadi kesal dan jika engkau menyebar-kan rahasianya, maka engkau
tidak merasa aman terhadap pengkhianatannya. Kemudian janganlah engkau
bergembira di hadapannya ketika dia bersedih, dan jangan pula bersedih di
hadapannya ketika dia bergembira”[2]

Seseorang menikahkan puterinya dengan keponakannya. Ketika ia hendak
membawanya, maka dia berkata kepada ibunya, “Perintahkan kepada puterimu
agar tidak singgah di kediaman (suaminya) melainkan dalam keadaan telah
mandi. Sebab, air itu dapat mencemerlangkan bagian atas dan membersihkan
bagian bawah. Dan janganlah ia terlalu sering mencumbuinya. Sebab jika badan
lelah, maka hati menjadi lelah. Jangan pula menghalangi syahwatnya, sebab
keharmonisan itu terletak dalam kesesuaian.

Ketika al-Farafishah bin al-Ahash membawa puterinya, Nailah, kepada Amirul
Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan Radhitallahu ‘anhu, dan beliau telah
menikahinya, maka ayahnya menasihatinya dengan ucapannya, “Wahai puteriku,
engkau didahulukan atas para wanita dari kaum wanita Quraisy yang lebih
mampu untuk berdandan darimu, maka peliharalah dariku dua hal ini:
bercelaklah dan mandilah, sehingga aromamu adalah aroma bejana yang terguyur
hujan.”

Abul Aswad berkata kepada puterinya, “Jangalah engkau cemburu, sebab
kecemburuan itu adalah kunci perceraian. Berhiaslah, dan sebaik-baik
perhiasan ialah celak. Pakailah wewangian, dan sebaik-baik wewangian ialah
menyempurnakan wudhu.'”

Ummu Ma’ashirah menasihati puterinya dengan nasihat berikut ini yang telah
diramunya dengan senyum dan air matanya: “Wahai puteriku, engkau akan
memulai kehidupan yang baru… Suatu kehidupan yang tiada tempat di dalamnya
untuk ibumu, ayahmu, atau untuk seorang pun dari saudaramu. Engkau akan
menjadi teman bagi seorang pria yang tidak ingin ada seorang pun yang
menyekutuinya berkenaan denganmu hingga walaupun ia berasal dari daging dan
darahmu. Jadilah engkau sebagai isteri, wahai puteriku, dan jadilah engkau
sebagai ibu baginya. Jadikanlah ia merasa bahwa engkau adalah segalanya
dalam kehidupannya dan segalanya dalam dunianya. Ingatlah selalu bahwa suami
itu anak-anak yang besar, jarang sekali kata-kata manis yang
membahagia-kannya. Jangan engkau menjadikannya merasa bahwa dengan dia
menikahimu, ia telah menghalangimu dari keluargamu.

Perasaan ini sendiri juga dirasakan olehnya. Sebab, dia juga telah
meninggalkan rumah kedua orang tuanya dan meninggalkan keluarganya karenamu.
Tetapi perbedaan antara dirimu dengannya ialah perbedaan antara wanita dan
laki-laki. Wanita selalu rindu kepada keluarganya, kepada rumahnya di mana
dia dilahirkan, tumbuh menjadi besar dan belajar. Tetapi dia harus
membiasakan dirinya dalam kehidupan yang baru ini. Ia harus mencari hakikat
hidupnya bersama pria yang telah menjadi suami dan ayah bagi anak-anaknya.
Inilah duniamu yang baru, wahai puteriku. Inilah masa kini dan masa depanmu.
Inilah mahligaimu, di mana kalian berdua bersama-sama menciptakannya.

Adapun kedua orang tuamu adalah masa lalu. Aku tidak me-mintamu melupakan
ayah dan ibumu serta saudara-saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu
selama-lamanya. Wahai sayangku, bagaimana mungkin ibu akan lupa belahan
hatinya? Tetapi aku meminta kepadamu agar engkau mencintai suamimu,
mendampingi suamimu, dan engkau bahagia dengan kehidupanmu bersamanya.”

Diriwayatkan bahwa Ibnu Abi ‘Udzr ad-Du’ali -pada hari-hari pemerintahan
‘Umar Radhiyallahu ‘anhu- menceraikan wanita-wanita yang dinikahinya.
Sehingga muncullah kepadanya beberapa peristiwa yang tidak disukainya
berkenaan dengan para wanita tersebut dari hal itu. Ketika dia mengetahui
hal itu, maka dia memegang tangan ‘Abdullah bin al-Arqam sehingga membawanya
ke rumahnya. Kemudian dia berkata kepada isterinya: “Aku memintamu bersumpah
demi Allah, apakah engkau benci kepadaku?” Ia menjawab, “Jangan memintaku
bersumpah demi Allah.” Dia mengatakan, “Aku memintamu bersumpah demi Allah.”
Ia menjawab, “Ya.”

Kemudian dia berkata kepada Ibnul Arqam, “Apakah engkau dengar?” Kemudian
keduanya bertolak hingga sampai kepada ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu
‘anhu lalu mengatakan, “Kalian mengatakan bahwa aku menzhalimi kaum wanita
dan menceraikan mereka. Bertanyalah kepada al-Arqam.” Lalu ‘Umar bertanya
kepadanya dan mengabarkannya. Lalu beliau mengirim utusan kepada isteri Ibnu
Abi ‘Udzrah (untuk datang kepada ‘Umar). Ia pun datang bersama bibinya, lalu
‘Umar bertanya, “Engkaukah yang bercerita kepada suamimu bahwa engkau marah
kepadanya?” Ia menjawab, “Aku adalah orang yang mula-mula bertaubat dan
menelaah kembali perintah Allah kepadaku. Ia memintaku bersumpah dan aku
takut berdosa bila berdusta, apakah aku boleh berdusta, wahai Amirul
Mukminin?” Dia menjawab, “Ya, berdustalah. Jika salah seorang dari kalian
tidak menyukai salah seorang dari kami, janganlah menceritakan hal itu
kepadanya. Sebab, jarang sekali rumah yang dibangun di atas dasar cinta,
tetapi manusia hidup dengan Islam dan mencari pahala”[3]

Kepada setiap muslimah yang memenuhi hak-hak suaminya dan takut terhadap
murka Rabb-nya karena dia mengetahui hak suaminya atasnya! Inilah contoh
sebagian pria yang mensifati isterinya yang tidak mengetahui hak suaminya
dan tidak pula memelihara kebaikannya. Ia tidak mempercantik diri dan tidak
berdandan untuknya, serta bermulut kasar. Ia mensifatinya dengan sifat yang
membuat hati bergetar dan telinga terngiang-ngiang. Camkanlah sehingga
engkau tidak jatuh ke tempat yang menggelincirkan ini.

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia
Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal
bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s