Arin berdiri mematung di halte bus itu, sesekali menyeka air hujan yang menetes dari langit-langit halte yang mengenai jilbabnya. Sudah hampir setengah jam Arin berdiri di halte itu tapi bus yang di tunggunya belum juga muncul. Dari sudat matanya Arin menangkap sosok kecil yang tampak sedikit kedinginan di pojok halte itu. Sedikit demi sedikit Arin merapatkan langkah mendekati bocah kecil itu. Umurnya tak lebih dari 7 tahun dengan berbalut kaos oblong coklat kucel dan celana panjang yang sudah usang. Bocah itu masih asyik dengan gitar kecilnya seakan sedang meghibur dirinya, tak dia hiraukan air hujan yang sesekali menimpa wajahnya. Pun dia sangat tak acuh ketika Arin memperhatikan nya  dengan seksama.

”Dek sendirian?”

”yup” jawabnya cuex bahkan tak melirik sedikitpun.

”tinggalnya di mana?”

”di sana jauh” dengan acuh akhirnya dia mengalihkan pandangan nya ke arah Arin. Arin menatap wajah itu bibirnya tampak pucat, karena rambut dan bajunya yang sedikit basah. Arin mengambil sapu tangan kecil dari dalam tas nya.

”dek rambutnya keringin tuh” Arin menyerahkan sebuah sapu tangan tapi anak itu hanya menggelang tanda penolakan. Akhirnya arin pun memasukkan kembali sapu tangannya. Tapi rasa penasaran Arin tak jua reda, walau di acuhkan dia masih aja ingin bercengkrama dengan bocah kecil itu.

”Hm..nama dek siapa?”

”Arul”

” nama yang bagus…masih sekolah?”

”ga” jawabnya singkat.

”tinggal sama orang tua?”

”ga”

Tiba-tiba bus yang di tunggu Arin melintas di depannnya. Buru-buru Arin ingin mengejar bus itu, tapi tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas nya danmenyerahkan pada bocah kecil itu. ”ini alamat dan no telp kakak, kalau ada apa-apa hubungi kakak ya..”

Anak itu hanya mematung mengambil sebuah kartu nama yang di berikan sambil menatap kepergian Arin. Dengan langkah sigap Arin segera naik ke dalam bus patas itu, tubuhnya yang tinggi langsung menyeruak di antara puluhan penumpang lainnya yang memadati bus itu.

 

***

“Kita sholat Jamaah dulu yah nanti baru makan malam…Hayoo sekarang pada siap-siap ambil air wudlu ..

“Dimas nanti giliran jadi Imam ya..”

“dan Arul yang iqomah .”

Hanya beberapa menit anak-anak itu sudah berkumpul kembali, ada lima orang anak tiga laki-laki dan dua perempuan rata-rata umur mereka antara 6 sampai 9 tahun. Mereka segera mengatur Shaaf setelah di arahkan oleh Arin.

“Ayu sini sayang, rambutnya masih keliatan tuh, Arin berjongkok membenarkan mukena gadis kecil berusia 7 tahun itu. Setelah selesai sholat Arin menyuruh anak-anak untuk membereskan mukena dan sajadahnya.

“Bi Siti makanannya sudah Siap ya?” tanya Arin sambil melongokkna kepalanya ke dapurnya  yang sempit di rumah kontrakan itu

“iya sudah Neng..”kata Bi Siti sambil mengelap piring-piring.

”ya udah, kita makan dulu yuk Bi, kasian anak-anak sudah pada laper tuh”

”iya neng sebentar ya bibi beresin ini sebentar”

“anak-anak waktunya kita makaaaaaaaaan… !” seru arin yang langsung di ikuti oleh langkah ceria anak-anak itu. ”Asyiiiik..!!”

”hayo, Adi pimpin doa dulu”

Selesai berdoa mereka segera menyerbu masakan sederhana yang di hidangkan bi Siti, tak ketinggalan Bi siti pun ikut makan bersama-sama mereka. Tampak keceriaan di wajah-wajah kecil yang lelah itu.

“ kak Arin, kenapa kita harus colat cih” tanya Upik yang masih cedal selesai makan, seperti biasa mereka berdiskusi sebentar di meja makan sebelum mereka mengaji

“Biar lebih di sayang Allah” kata Arin sambil tersenyum menatap wajah polos bocah berumur enam tahun itu.

“kak ARin, apa Allah juga sayang sama Ayu?” tiba-tiba Ayu bertanya serius, Arin menatap lembut sambil membelai rambut bocah kecil yang duduk di sampingnya itu “Tentu sayang..Allah sayang sama kita semua apalagi kalau kalian rajin sholat dan mengaji..”

“tapi kalau Allah sayang sama Adi kenapa Allah mengambil Ibu Adi kak..?” tanya bocahberusia delapn tahun itu dengan raut muka yang memelas.

“Adi…kan ada kakak di sini, anggap kakak ini pengganti orang tua kalian, walau kakak tidak sebaik mereka, Allah mempertemukan kita, memberi kita makan, minum, memberi kita kesehatan, fisik yang sempurna itu buktinya Allah Sangat sayang sama kita. Coba adi perhatikan temen-temen Adi yang tidak bisa melihat, ada yang tidak bisa mendengar, ada yang tidak bisa berjalan, tapi mereka pun senantisa bersyukur kepada Allah, karena Allah tidak memandang siapa kita, bagaimana bentuk rupa kita tapi hanya melihat ketaatan kita, dan kelak kita akan bisa merasakan kasih sayang Allah yang lebih dekat lagi kalau kita bisa masuk surga”

“gimana agar kita masuk surga ya kak?” tanya arul yang ikut nimbrung

“Arul harus rajin sholat, mengaji, tidak menyakiti teman, dan mendoakan orang tua arul”

Hayoo..sekarang ambil Iqronya ..waktunya kita ngaji ya..

Arin mengajari mereka mengaji satu-persatu, memang malam ini adalah jadwal Arin mengajar. Dan malam-malam yang lain ada beberapa temen Arin yang bergantian meluangkan waktunya membantu mengajar mata pelajaran umum mulai dari membaca, menulis sampai belajar matematika dan bahasa ingris.

 

Baru genap lima bulan Arin menampung anak-anak itu di rumah kontrakannya, bersama bu Siti Khodimatnya Arin mengurus makanan dan tidur mereka. Mereka adalah anak-anak jalanan yang tidak punya orang tua lagi. Tidak semua anak jalanan suka hidup teratur seperti ini ada beberapa yang kembali ke lingkungannya karena tidak bisa mengikuti pertauran yang di terapkan seperti sholat berjamaah, mengaji, belajar bahkan Arin sudah mulai mengajarkan mereka untuk sholat tahajud.

 

Arin belum tahu apa yang akan di lakukan untuk masa depan anak-anak ini selanjutnya, selama ini dia hanya menampung mereka, memberi makan dan menyediakn tempat tidur, sedang mereka masih beraktivitas seperti biasanya yaitu menyanyi di jalanan. Dan berkat beberapa bantuan teman Arin bisa membekali mereka dengan sedikit ilmu, seperti mengajarkan mereka membaca, menulis, dan mengaji. Karena sebagian dari mereka belum mengenal sekolah sama sekali.

Dalam benak Arin berfikir keras bagaimana agar bisa menyekolahkan mereka atau mungkin mendirikan yayasan yang setara dengan sekolah yang di akui legalitasnya tapi Arin tahu itu perlu perencanaan yang panjang dan dana yang tidak sedikit. Sedang Arin pun masih harus bertahan hidup di jakarta dengan hasil jerih payahnya sendiri. Tapi Arin tetap bertekad suatu saat bisa menjadikan anak-anak ini generasi yang pintar dan bermanfaat. Dan tekad Arin adalah memasukkan mereka ke sekolah atau mendirikan sekolah agar mereka memiliki jenjang pendidikan yang sama seperti anak-anak lainnya. Arin belum tahu dari mana dia akan mendapatkan biaya untuk itu, tapi dia yakin bahwa suatu saat Allah akan menolongnya. Saat ini dia mulai mengajarkan anak-anak ini untuk menabung sebagian hasil mengamennya untuk tambahan biaya kalau kelak mereka sekolah, dan Arin pun giat mengumpulkan buku-buku koleksinya dan sumbangan dari teman-temannya dan telah berhasil membangun sebuah perpustakaan mini untuk mereka.

 

***

Arini tersenyum bahagia melihat mereka bercanda-ria di dalam rumah kontrakannya yang sempit itu. Meski dengan segala fasilitas yang serba terbatas tapi Arin sangat bahagia bisa tinggal bersama mereka. Arin sangat bersyukur mendapat kepercayaan dan kesempatan untuk menampung mereka. Mimpi Arin masih panjang, Arin ingin suatu saat anak-anak ini sejajar atau bahkan lebih maju dari teman-teman mereka yang masih mempunyai orang tua. Lebih cerdas dari mereka yang hidupnya berkecukupan. Arin sangat yakin bahwa Allah akan membimbingnya, menemukan jalan untuk masa depan mereka.

 

Jakarta 15 Maret 2007

Alzrie