Sunnah Nabawiyah
14/5/2008 | 09 Jumadil Awal 1429 H | Hits: 356

20 Rambu Dalam Hidup Bermasyarakat

Oleh: Mochamad Bugi

dakwatuna.com – Islam sangat mendorong pemeluknya hidup bermasyarakat
secara sehat. Islam mencela orang yang mengasingkan diri dari
kehidupan sosial. Untuk itu, Islam memberi rambu-rambu agar seorang
muslim bisa hidup berdampingan dalam masyarakatnya dengan sehat tanpa
merugikan satu sama lain. Berikut ini 20 rambu tersebut.

1. Saling memberi nasihat

Saling menasihati adalah salah satu bentuk kesetiaan seorang muslim
kepada saudara muslimnya yang lain. Nasihat juga adalah bukti
kesempurnaan dan lengkapnya keshalihan seseorang dalam beragama.

Dari Tamim Ad-Daari r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya
agama (ad-din) itu an-nashihah. ” Kami bertanya, “Nasihat bagi
siapakah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi
Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan bagi para imam/ulama muslimin dan bagi
orang-orang awam di antara kalian.” (Muslim no. 55)

Dari Jabir bin Abdullah r.a. yang berkata, aku membai’at Rasulullah
saw. untuk (mau) mendengar dan menaati (Islam). Lalu beliau
mengajariku, “(Lakukanlah) apa yang dapat kamu lakukan dan (hendaknya)
kamu menasihati kepada setiap muslim.” (Bukhari no. 7204)

Jadi, saat turun bermasyarakat seorang muslim senantiasa menggunakan
kesempatan itu untuk saling menasihati. Pertama, saling mengingatkan
untuk menjaga keikhlasan hanya untuk Allah swt. semata. Kedua, saling
menasihati untuk membenarkan dan menyakini bahwa Al-Qur’an itu benar
dan diamalkan sebagai pedoman hidup. Ketiga, saling mengingatkan untuk
mengakui kebenaran Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, untuk taat
pada setiap perintahnya, serta meneladani dan melanjutkan risalah
dakwahnya.

Keempat, mengingatkan imam/ulama jika mereka menyimpang dan taat
kepada mereka dalam kebenaran. Kelima, menasihati orang awam dalam
bentuk membimbing mereka untuk memperoleh kemaslahatan.

2. Jauhi Perbuatan Zalim

Dalam sebuah hadits qudsi, Abu Dzar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah
saw. berkata bahwa Allah swt. berfirman, “Hai hamba-hamba- Ku,
sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan zalim atas diri-Ku dan Aku
jadikan kezaliman it uharam di atanramu, maka janganlah kamu saling
menzalimi.” (Muslim no. 2577)

Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw.
bersabda, “Muslim (sejati) itu ialah yang dapat menyelamatkan muslim
lain dari gangguan lidah dan tangannya.” (Muslim no. 41)

3. Berakhlak Mulia

Abdullah bin `Amr bin Ash r.a. berkata Rasulullah saw itu bukanlah
seorang yang buruk perkataanya dan tidak berusaha untuk melakukan hal
seperti itu. Bahkan Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya termasuk
orang-orang pilihan di antaramu adalah yang paling bagus akhlaknya.”
(Bukhari no. 3559 dan Muslim no. 2331)

Dari Abu Darda bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu yang
paling berat timbangannya bagi mukmin pada hari kiamat daripada akhlak
yang bagus. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang buruk tutur
katanya dan jorok (cabul).” (Abu Dawud no. 4799 dan Turmudzi no. 2003)

Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kamu dan paling dekat
kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus
akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling aku benci di antara kamu dan
paling jauh tempatnya dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak
bicara tanpa manfaat, yang banyak bicara dibuat-buat, dan memenuhi
mulutnya dengan segala macam perkataan (tak berbobot).” (Turmudzi no.
2018))

4. Saling membantu dalam kebaikan

Seorang muslim hendaknya suka membantu sesamanya. Ini perintah
Rasulullah saw. seperti yang diriwayatkan Abdullah bin Umar, “Muslim
itu saudara(nya) muslim. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh
menyerahkannya ke tangan musuh. Barangsiapa yang berkenan memenuhi
hajat kebutuhan saudaranya, maka Allah pasti memenuhi hajatnya.
Barangsiapa melepaskan suatu kesulitan muslim, maka Allah akan
melepaskan darinya salah satu kesulitannya pada hari kiamat. Dan
barangsiapa yang menutupi (aib) muslim, maka Allah akan menutupi
(aib)nya pada hari kiamat.” (Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580)

Abu Hurairah juga meriyaratkan hadits yang mirip. Rasulullah saw.
bersabda, “Barangsiapa yang melepaskan suatu kesusahan seroang mukmin
di antara berbagai kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan darinya
salah satu di antara berbagai kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa
yang memudahkan orang yang mendapatkan kesulitan, maka Allah akan
memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa
yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di
dunia dan akhirat. Dan Allah itu akan selalu membantu hamba jika ia
mau membantu saudaranya. Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk
menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan untuk menuju
surga. Tidak ada suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah
seraya membaca kitab Allah -Al-Qur’an-dan mereka mempelajari Al-Qur’an
tersebut kecuali akan turun kepada mereka ketenangan dan mereka pun
akan diliputi rahmat Allah serta mereka akan diliputi malaikan, bahkan
Allah pun akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk lain di
sisi-Nya. Serta, barangsiapa yang menangguhkan amal ibadahnya, maka
tidak akan dipercepat keturunannya. ” (Muslim no. 2699)

5. Suka berkorban dan memberi

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tangan yang di
atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas itu
ialah tangan yang memberi; sedangkan tangan yang di bawah ialah yang
meminta-minta. ” (Bukhari no. 1429 dan Muslim no. 1033)

Abdullah bin Umar juga mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda
dalam khutbahnya, “Jauhilah olehmu sifat kikir. Sebab, orang-orang
sebelum kamu itu hancur karena kikir. (Pemimpin mereka) memerintahkan
mereka untuk kikir, lalu mereka pun kikir; ia memerintahkan untuk
memutuskan hubungan (persaudaraan) lalu mereka pun memutuskan hubungan
(persaudaraan) ; dan ia memerintahkannya untuk berbuat durhaka, mereka
pun melakukan perbuatan durhaka,” (Abu Dawud no. 1698, Hakim no. 415,
dan shahih al-jami’ no. 2675)

6. Mengatakan kebenaran

Seorang muslim selalu mengatakan hal yang benar. Meskipun perkataan
itu akan pahit dirasakan karena mengenai dirinya sendiri atau
berhadapan dengan penguasa. Abu Sa’id Al-Kudri r.a. berkata bahwa
Rasulullah saw. shalat bersama kami pada shalat ashar di siang hari.
Lalu ia berdiri untuk berkhutbah. Tiada ia meninggalkan suatu berita
tentang (dan untuk menuju) akhirat kecuali ia memberitahukannya kepada
kami. Berita itu akan dihapal oleh orang yang menghapalkannya dan akan
dilupakan oleh orang yang melupakannya. Dan di antara yang
disabdakannya adalah, “Ingatlah, jangan sampai ada seorang pun
terhalang oleh wibawa (kharisma) seseorang untuk mengatakan (dan
memperjuangkan) yang hak jika ia mengetahuinya. ” (Turmudzi no. 2191,
Ibnu Majah no. 4007, Hakim no. 506, dan Silsilah Shahihah no. 168)

Zaid bin Abdullah bin Umar r.a. bercerita bahwa ada sejumlah orang
yang berkata kepada Abdullah bin Umar, “Kita sungguh akan memasuki
(menghadap) Sultan atau Amir kita. Maka kita (mesti) mengatakan kepada
mereka apa yang berbeda dengan apa yang kita katakan jika kita keluar
dari sisi mereka.” Lalu Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Kami
menganggap yang seperti itu di masa Rasulullah saw. sebagai
kemunafikan. ” (Bukhari no. 7178)

Semoga kita bisa selalu istiqomah untuk mengatakan hal yang benar
kepada siapapun sehingga kita tidak tergolong orang yang memiliki
sifat munafik.

7. Mengajak berbuat baik

Salah satu tujuan seorang muslim bergaul dengan masyarakat di sekitar
dirinya adalah dalam rangka mengajak mereka untuk berbuat kebaikan.
Dan ini adalah perintah Allah swt., “Hendaklah ada di antara kamu
sekelompok orang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang perbuatan
munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imrah: 110)

Dan mengajak orang melakukan kebaikan sungguh besar pahalanya.
Rasululllah saw. bersabda –seperti yang diterima dari Abu Sa’id
Al-Kudri–, “Barangsiapa yang mengajak/menunjukka n kepada kebaikan,
maka ia berhak mendapatkan pahala sebesar pahala orang yang
melakukannya. ” (Muslim no. 1893)

Abu Hurairah r.a. juga meriwayatkan hadits serupa. Rasulullah saw.
bersabda, “Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran, maka ia akan
mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tidak
berkurang dari pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak
kepada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa sebesar dosa
orang-orang yang mengikutinya, tidak berkurang dari dosa mereka
sedikitpun.” (Muslim no. 2674)

8. Menjauhi perbuatan munkar

Di manapun seorang muslim berada, ia selalu punya energi untuk
mencegah dirinya dan orang di sekitarnya dari melakukan perbuatan
munkar. Abu Sa’id Al-Kudri mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia
mengubahnya dengan tangannya; jika tidak dapat, maka hendaknya ia
mengubahnya dengan lidahnya; jika tidak dapat dengan itu, maka dengan
hatinya, dan ini adalah keimanan yang paling rendah.” (Muslim no. 49)

Rasulullah saw. sangat melarang seorang muslim menjadi orang yang
permisif dengan kemunkaran. `Ars bin Umairah Al-Kindi r.a.
menyampaikan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jika suatu
kesalahan/dosa diperbuat di buka bumi, maka orang yang menyaksikannya
dan membencinya lalu mengingkarinya seperti orang yang tidak ada di
situ –tidak mengetahuinya– dan barangsiapa yang tidak ada di sana
–tidak mengetahuinya– tetapi meridhainya, ia seperti orang yang
menyaksikannya. ” (Abu Dawud no. 4345 dan Shahihul Jami’ no. 7020)

9. Sabar dan murah hati

Bergaul dengan sesama tentu membutuhkan kesiapan mental dan kestabilan
emosional. Sebab, manusia beragam sifatnya. Sifat sabar dan murah hati
adalah bekal yang harus disiapkan seorang muslim. Apalagi Allah swt.
dalam surat Ali Imran ayat 134 menjadikan dua sifat ini sebagai ciri
ketakwaan. “Bergegaslah menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang seluas
langit dan bumi disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu)
orang-orang yang mendermakan (hartanya) di waktu senang maupun ketika
menderita, dan orang-orang yang menahan marahnya serta yang memaafkan
kesalahan orang lain. Dan Allah itu suka kepada orang-orang yang
(suka) berbuat baik.”

Bahkan Rasulullah saw. menyebut orang yang mampu menahan marah,
bersabar, dan bermurah hati sebagai jagoan. Abu Hurairah merekam sabda
Rasulullah saw. ini, “Orang jagoan itu bukanlah ditentukan dengan
(jagoan) gulat. Justru orang jagoan itu ialah orang yang dapat menahan
dirinya ketika marah.” (Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609).
Subhanallah! Jika setiap manusia mampu mengamalkan sabda Rasulullah
saw. ini tentu sengketa, perselisihan, konflik, perseteruan, perang,
dan pertumpahan darah akan menjadi hal yang langka di muka bumi ini.

10. Pemaaf, toleran, dan tawadhu’

Bergaul dengan masyarakat tentu tak selamanya harmonis. Kadang ada
geserkan karena sesuatu hal. Dan menyimpan dendam adalah ciri pribadi
yang tidak sehat dalam bergaul dengan masyarakat. Allah swt. justru
mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang pemaaf. Bahkan,
membalas keburukan dengan kebaikan. “Balaslah keburukan dengan cara
yang baik.” (Al-Mu’minun: 96)

Sebab, ketika kita memberi maaf, memberi toleransi, dan tawadhu, itu
semua tidak membuat kita hina. Justru terlihat mulia di sisi. Abu
Hurairah r.a. merekam bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tiada berkurang
harta karena sedekah, dan tiada Allah menambah seseorang karena (mau)
memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidak ada seorang hamba pun yang
tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah kecuali Allah akan
mengangkatnya. ” (Muslim no. 2588)

Dari `Iyadh bin Khimar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah swt. telah mewahyukan kepadaku supaya kamu saling
bertawadhu’ sehingga tidak ada seorang pun yang bertindak lalim atas
yang lain dan tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang
lain.” (Muslim no. 2865)

Bahkan, sifat merendah menjadi ciri ahli surga. Dan sebaliknya, kasar,
tidak sabaran, congkak, dan sombong adalah ciri ahli neraka. Diterima
dari Haritsah bin Wahab r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw.
bersabda, “Senangkah kalian jika aku beritahukan tentang ahli surga?
Ia (ahli surga itu), setiap orang yang lemah dan memandang diri
(sendiri) lemah, yang jika bersumpah kepada Allah pasti dikabulkan.
Dan, sukakah kalian aku beritahukan tentang ahli neraka? Ia (ahli
neraka itu) adalah setiap orang yang kasar, tidak sabaran, dan congkak
lagi sombong.” (Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)

11. Sopan, santun, dan ramah

Suatu ketika pernah sekelompok orang Yahudi menemui Rasulullah saw.
Mereka berkata, “Al-saam `alaika (semoga engkau dikenai racun).”
Aisyah mendengar dan mengerti maksud kata-kata itu lantas membalas,
“`Alaikum al-saam wa al-la’nah (semoga racun itu untukmu disertai
kutukan).” Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah, “Jangan begitu
Aisyah. Sesungguhnya Allah menyukai sifat lemah lembut dalam segala
urusan.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau dengar apa
yang mereka katakan?” Rasulullah saw. menjawab, “Telah aku jawab, wa
`alaikum.” (Bukhari no. 6024)

Di hadits yang sama, dalam riwayat Bukhari no. 6030 disebutkan
Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah, “Hai Aisyah, engkau mesti lemah
lembut (tidak kasar), dan jauhilah olehmu sifat kasar/kejam dan
keji/kotor.” Sedangkan dalam riwayat Muslim no. 2165, Rasulullah saw.
berkata, “Hai Aisyah, janganlah berlaku keji/kotor.” Masih diriwayat
Muslim yang lain, Rasulullah saw. berkata, “Jangan begitu, hai Aisyah.
Sebab, Allah tidak menyukai perbuatan keji dan mengata-ngatai secara
kotor.”

Begitulah Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita dalam berinteraksi
dengan orang lain. Bahkan, dengan orang yang jelas-jelas punya maksud
buruk terhadap diri kita. Sebab, sifat lemah lembut dan santun tidak
boleh hilang dari diri kita. Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak ada pada sesuatu
kecuali menghiasinya dan tidak tercabut dari sesuatu barang kecuali
menjadi kotor/jeleklah barang itu.” (Muslim no. 2594)

Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah
itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan, dan Dia memberi (kepada
seseorang) karena kelembutan(nya) apa yang tidak diberikan-Nya (kepada
seseorang) karena kekejaman(nya) dan apa yang tidak diberikan-Nya
kepada orang yang mempunyai sifat selain sifat kejam.” (Muslim no. 2593)

Karena itu, Rasulullah saw. tidak ingin seorang muslim menjadi
pengutuk. Abu Hurairah r.a. menyampaikan kepada kita bahwa Rasulullah
saw. bersabda, “Tidaklah pantas bagi shiddiq, mukmin yang bagus
imannya, untuk menjadi pengutuk.” (Muslim 2597)

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Mukmin
itu bukanlah pencemar nama baik orang, bukan pengutuk, dan bukan
pelaku perbuatan keji, serta bukan yang buruk tutur katanya.”
(Turmudzi no. 1977 dan Silsilah Shahihah no. 320)

Dari Abu Darda r.a. bahwa Rasululllah saw. bersabda, “Tidak ada
sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin pada
hari kiamat daripada akhlak yang bagus (mulia). Dan sesungguhnya Allah
itu membenci orang yang suka melakukan perbuatan keji dan buruk tutur
katanya.” (Abu Dawud no. 4799, Turmudzi no. 2002, Silsilah Shahihah
no. 876, dan Shahihul Jami no. 5597)

Karena itu, Rasulullah saw. melarang seorang muslim mencela muslim
yang lain. Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, “Mencela muslim itu perbuatan durhaka (fusuuq) dan membunuh
muslim adalah suatu kekufuran.” (Bukhari no. 48 dan 6044, Muslim no.
64 dan 116)

12. Bertutur kata yang baik

Dari diri kita yang paling harus dijaga dalam bergaul dengan
masyarakat adalah lidah kita. Tidak sedikit orang celaka karena tidak
mampu mengontrol perkataannya.

Mu’adz bin Jabal r.a. diajarkan langsung tentang hal itu oleh
Rasulullah saw. “Senangkah kamu jika aku beritahukan apa yang
menguasai (mencukupi) itu semua?” Mu’adz menjawab, “Tentu, wahai
Rasulullah saw.” Rasulullah saw. bersabda, “Tahanlah olehmu ini!”
Rasulullah saw. menunjuk lidahnya. Mu’adz berkata, “Wahai Nabiyullah,
apakah kita akan dituntut dengan apa yang kita ucapkan?” Rasulullah
saw. menjawab, “Celakalah kamu, wahai Mu’adz, bukankah manusia dapat
tersungkur ke dalam neraka hanya karena kata-kata yang keluar dari
lidahnya?”

Karena itu, menjaga lidah bukan hanya selamat diri dari kemarahan
orang yang mendengar, tetapi juga selamat dari siksa neraka. Sahal bin
Sa’ad Al-Sa’idi r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapa
yang menjamin (memelihara) untukku apa yang ada di antara kedua
kakinya dan apa yang ada di antara kedua janggutnya (lidahnya), aku
menjamin baginya (masuk) surga.” (Bukhari no. 6474 dan 6807)

Uqbah bin `Amir r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat
keselamatan itu?” Rasulullah menjawab, “Tahanlah lidahmu, rumahmu
meski mencukupimu dan menangislah atas segala kesalahanmu. ” (Turmudzi
no. 2406 dan Silsilah Shahihah no. 890)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan
kata-kata yang baik atau diam.” (Bukhari no. 5185 dan Muslim no. 47)

13. Berkhitmat kepada kaum muslimin

Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara.” (Al-Hujurat: 10). Karena dekatnya hubungan satu muslim
dengan muslim yang lain sebagai saudara, jika ada yang sakit maka
semua merasa sakit.

Anas bin Malik r.a. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
`Tidak sempurna iman seseorang di antaramu kecuali jika ia mencintai
saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya.” (Bukhari no. 13
dan Muslim no. 45)

Dari Nu’man bin Basyir r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai,
menyayangi, dan saling membantu itu bagaikan satu jasad. Jika ada di
antaranya yang merasa sakit, maka semua unsur jasad ikut tidak tidur
dan merasa demam.” (Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)

Karena itu, tak heran jika Rasulullah saw. mengancam seorang muslim
yang tidak peduli dengan saudara muslimnya. Dari Hudzaifah Bin Yaman
r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak ihtimam
(peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.” (HR
At-Tabrani)

Anas bin Malik pernah menemani Jarir bin Abdullah Al-Bajali dalam
sebuah perjalanan. Jarir berkhitmat kepada Anas, padahal usianya lebih
tua daripada Anas. Ini membuat anak tak enak. “Jangan engkau lakukan
itu,” Jarir menjawab, “Aku telah melihat orang-orang Anshar memuliakan
Rasulullah saw. dan mereka melakukan sesuatu kepadanya, aku bertekad
untuk tidak bertemu dengan salah seorang di antara mereka (kaum
Anshar) kecuali aku memuliakannya dan berkhidmat kepadanya karena
keutamaan/kemuliaan seperti itu.” (Bukhari no. 2888 dan Muslim no. 2513)

Sungguh mulia Jarir dan sungguh mulia kita jika bisa saling berkhitmat
dengan sesama.

14. Suka menolong

Allah swt. berfirman, “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan
ketakwaan; dan janganlah kamu saling menolong dalam perbuatan dosa dan
permusuhan.” (Al-Ma’idah: 2)

Anas bin Malik r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tolonglah
saudaramu, baik ia sebagai penganiaya maupun sebagai yang teraniaya.”
Ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku dapat menolongnya jika
teraniaya. Lalu, bagaimana caranya menolong yang menganiaya?”
Rasulullah saw. menjawab, “Engkau harus menghalanginya dari perbuatan
zalimnya. Itulah cara meolongnya.” (Bukhari no. 2443)

Dari Abu Darda r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang
membela harga diri (martabat) saudaranya, maka Allah akan menolak dari
wajahnya api neraka pada hari kiamat.” (Turmudzi no. 1931 dan Ahmad
no. 449)

15. Memiliki sifat sayang

Dari Jarir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Allah
tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi orang lain.” Dalam
riwayat lain, “Barangsiapa yang tidak sayang kepada manuasi, maka ia
tidak disayangi Allah.” (Bukhari no. 6013 dan Muslim no. 2319)

Dari Abdullah bin `Amr bin Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Para penyayang akan disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah
yang ada di muka bumi, kamu pasti disayangi yang di langit.” (Abu
Dawud no. 4941, Turmudzi no. 1924, Silsilah Shahihah no. 925)

Dari Anas bin Malik r.a. dan Abdullah bin Abbas r.a. bahwa Rasulullah
saw. bersabda, “Bukanlah dari kelompok kami orang yang tidak sayang
kepada yang kecil dan tidak hormat pada yang lebih besar (tua).”
(Turmudzi no. 1919)

16. Punya rasa malu dan mengendalikan pandangan

Malu adalah ciri khas seorang muslim. Karena itu Rasulullah saw.
membela seseorang yang punya rasa malu dari celaan orang lain. Dari
Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. pernah melewati seseorang yang
mencela saudaranya karena rasa malunya dengan mengatakan, “Kamu ini
terlalu pemalu,” sehingga dikatakan, “Sungguh kamu celaka.” Maka
Rasulullah saw. pun bersabda, “Biarkanlah ia, sebab malu itu bagian
dari iman.” (Bukhari no. 24 dan Muslim no. 36)

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Iman itu
enam puluh sekian cabang, dan malu sebagai satu cabang dari keimanan
itu.” (Bukhari no. 9 dan Muslim no. 350)

Sedangkan tentang mengendalikan pandangan, Allah swt. berfirman,
“Katakanlah kepada kaum mukminin: hendahnya mereka mengendalikan
pandangannya dan memelihara kemaluannya. Itu lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan
katakanlah kepada kaum mukminat, hendaknya mereka mengendalikan
pandangannya dan memelihara kemaluannya. ” (An-Nur: 31)

17. Tidak suka menjilat

Seorang muslim hendaknya menjauhi kebiasaan menjilat dan memuji secara
berlebihan. Sebab, hal itu dilarang oleh Rasulullah saw. Dari Abu Musa
Al’Asy’ari r.a. bahwa Rasulullah saw. penah mendengar seseorang
menyanjung seseorang seya memujinya secara berlebihan, lalu beliau
bersabda, “Kamu yang memutuskan punggungnya. ” (Bukhari no. 2663 dan
Muslim no. 3001)

Bahkan kita diajarkan Rasulullah saw. untuk menaburkan tanah ke wajah
orang yang berusaha menjilat. Pernah seseorang memuji-muji Usman.
Miqdad kemdian maju dan berlutut pada kedua lutut orang itu, lalu
menumpahkan kerikil ke wajahnya. Usman berkata, “Apa yang kamu lakukan
itu?” Miqdad menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda,
`Jika kamu melihat orang-orang yang suka memuji-muji (menjilat), maka
tumpahkanlah tanah pada wajahnnya.” (Muslim no.3002)

18. Jangan jadi beban masyarakat

`Auf bin Malik Al-Asyja’i berkata, kami sembilan atau delapan atau
bertujuh orang pernah berada di sisi Rasulullah saw. Beliau bersabda,
“Mengapakah kalian tidak berbai’at kepada Rasulullah?” Sebetulnya kami
baru (beberapa hari) saja melakukan bai’at. Beliau bersabda lagi,
“Mengapa kalian tidak membai’at Rasulullah?” Kami membentangkan
tangan-tangan kami dan berkata, “Kami telah berbai’at kepada engkau,
wahai Rasulullah, lalu atas dasar apa lagi kami mesti membai’atmu? ”
Rasulullah saw. bersabda, “Kamu mesti berbai’at supaya tidak menyembah
selain Allah dan tidak menyekutukan- Nya dengan sesuatu pun, melakukan
shalat lima waktu, dan untuk mau mendengar dan mentaati.” Lalu beliau
bersabda, “Janganlah kamu meminta sedikitpun kepada manusia.” Maka aku
betul-betul melihat sebagian di antara mereka -sembilan atau delapan
atau tujuh orang yang berbai’at itu-ketika terjatuh cemeti salah
seorang di antara mereka, ternyata ia tidak meminta kepada seseorang
pun untuk mengembalikan untuknya.” (Muslim no. 1043)

Begitulah ajaran Rasulullah saw. agar kita bersikap ghina `anin-naas
(merasa cukup dari manusia) dan hanya meminta kepada Allah swt.

19. Sabar menghadapi kesulitan hidup

Adalah tabiat hidup di dunia penuh dengan kesulitan hidup: ada
kesedihan, ada penyakit, dan ada penderitaan. Kesemuanya itu
membutuhkan kesabaran. Sebab, segala kesulitan hidup memang diciptakan
Allah swt. untuk mengingatkan akan fananya dunia ini dan menumbuhkan
rasa rindu dalam hati seorang mukmin akan kampung akhirat yang kekal
dan penuh kenikmatan.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. dan Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah
saw. bersabda, “Tiada menimpa kepada mukmin, baik berupa penyakit atau
kelelahan, atau berupa penyakit atau kesedihan bahkan kegundahan yang
memusingkannya kecuali Allah akan menghapuskan dengan itu segala
dosanya.” (Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Dari Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh ajaib
urusan orang mukmin itu, sesungguhnya segala urusannya baik baginya.
Dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan,
ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa
musibah/bencana, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya.”
(Muslim no. 2999)

20. Punya ukuran tentang baik dan buruk

Begitu banyak peristiwa dan masalah yang timbul akibat interaksi kita
dengan masyarakat. Dan bisa jadi semua itu tidak membuat nyaman hati
kita. Apalagi bila menyangkut halal-haram, baik-buruk, boleh-tidak
boleh, patut-tidak patut. Karena itu, kita harus punya ukuran yang
menjadi standar dalam memilah semua peristiwa dan masalah yang
ditimbulkan akibat interaksi kita dengan orang lain. Ukuran itu adalah
syari’at.

Nu’man bin Basyir r.a. berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw.
bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.
Di antara yang halan dan haram itu ada hal-hal yang musytabihat yang
tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Tetapi, barangsiapa yang
menjauhi yang musytabihat, ia telah membebaskan agama dan
kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam musytabihat,
pasti terjerumus ke dalam yang haram. Hal itu bagaikan penggembala
yang menggembala di sekitar kebun dikhawatirkan gembalaannya itu masuk
ke dalamnya. Ingatlah, sesungguhnya bagi setiap raja itu ada kebun
larangannya, dan sesungguhnya kebun larangan Allah itu segala yang
diharamkan-Nya. ” (Bukhari no. 52 dan Muslim 1599)

Nawas bin Sam’an r.a. berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah
saw. tentang kebaikan dan dosa. Rasulullah saw. menjawab, “Al-Birr
(kebaikan) itu adalah akhlak yang mulia; sedangkan dosa ialah apa yang
berdetik -disertai dengan keraguan-dalam dadamu dan engkau tidak suka
jika orang lain mengetahuinya. (Muslim no. 2553)

Begitulah 20 rambu bagi kita dalam hidup bermasyarakat. Jika kita
amalkan, kita akan menjadi orang yang diharapkan kehadirannya di
tengah masyarakat. Ketika kita pergi, orang-orang di sekitar kita
menangisi kepergian kita.

http://www.dakwatun a.com/2008/ 20-rambu- dalam-hidup- bermasyarakat/