Tazkiyatun Nafs
26/4/2008 | 19 Rabiul Akhir 1429 H | Hits: 887

Selalu Ada Debu Dosa

Oleh: Muhammad Nuh

dakwatuna.com – Dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah
berdebu. Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai
melekat. Tanpa terasa, tapi begitu berbekas. Kalau saja tak ada
cermin, orang tak pernah mengira kalau ia sudah berubah.

Perjalanan hidup memang penuh debu. Sedikit, tapi terus dan pasti;
butiran-butiran debu dosa kian bertumpuk dalam diri. Masalahnya,
seberapa peka hati menangkap itu. Karena boleh jadi, mata kepekaan pun
telah tersumbat dalam gundukan butiran debu dosa yang mulai menggunung.

Seorang mukmin saleh mungkin tak akan terpikir akan melakukan dosa
besar. Karena hatinya sudah tercelup dengan warna Islam yang teramat
pekat. Jangankan terpikir, mendengar sebutan salah satu dosa besar
saja, tubuhnya langsung merinding. Dan lidah pun berucap,
“Na’udzubillah min dzalik!”

Namun, tidak begitu dengan dosa-dosa kecil. Karena sedemikian
kecilnya, dosa seperti itu menjadi tidak terasa. Terlebih ketika
lingkungan yang redup dengan cahaya Ilahi ikut memberikan andil. Dosa
menjadi biasa.

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika ia
terkumpul pada diri seseorang, lambat laun akan menjadi biasa.”

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw. mewanti para sahabat agar
berhati-hati dengan sebuah kebiasaan. Karena boleh jadi, sesuatu yang
dianggap ringan, punya dampak besar buat pembentukan hati.

Dari Anas Ibnu Malik berkata, “Rasulullah saw. menyampaikan sesuatu di
hadapan para sahabatnya. Beliau saw. berkata: `Telah diperlihatkan
kepadaku surga dan neraka, maka aku belum pernah melihat kebaikan dan
keburukan seperti pada hari ini. Jika kalian mengetahui apa yang aku
ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.’ Anas
berkata, “Tidak pernah datang kepada sahabat Rasulullah suatu hari
yang lebih berat kecuali hari itu.” Berkata lagi Anas, “Para sahabat
Rasulullah menundukkan kepala-kepala mereka dan terdengar suara
tangisan mereka.” (Bukhari & Muslim)

Sekecil apa pun dosa, terlebih ketika menjadi biasa, punya dampak
tersendiri dalam hati, pikiran, dan kemudian perilaku seseorang.
Repotnya, ketika si pelaku tidak menyadari. Justru orang lain yang
lebih dulu menangkap ketidaknormalan itu.

Di antara dampak dosa yang kadang remeh dan tidak terasa adalah
sebagai berikut: pertama, melemahnya hati dan tekad. Kelemahan ini
ketika tanpa sadar, seseorang tidak lagi bergairah menunaikan ibadah
sunah. Semuanya tinggal yang wajib. Nilai-nilai tambah ibadah menjadi
hilang begitu saja. Tiba-tiba, ia menjadi enggan beristighfar.
Sementara, hasrat untuk melakukan kemaksiatan mulai menguat.

Kedua, seseorang akan terus melakukan perbuatan dosa dan maksiat,
sehingga ia akan menganggap remeh dosa tersebut. Padahal, dosa yang
dianggap remeh itu adalah besar di sisi Allah ta’ala.

Di antara bentuk itu adalah ucapan-ucapan dusta. Awalnya mungkin hanya
sekadar canda agar orang lain bisa tertawa. Tapi, ucapan tanpa makna
itu akhirnya menjadi biasa. Padahal di antara ciri seorang mukmin
selalu menghindar dari perbuatan laghwi, tanpa makna. Allah swt.
berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman, (yaitu)
orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.”
(QS. 23: 1-3)

Seorang sahabat Rasul, Ibnu Mas’ud, pernah memberikan perbandingan
antara seorang mukmin dan fajir. Terutama, tentang cara mereka menilai
sebuah dosa. Beliau r.a. berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika
melihat dosanya seakan-akan ia berada di pinggir gunung. Ia takut
gunung itu akan menimpa dirinya. Dan seorang yang fajir tatkala
melihat dosanya, seperti memandang seekor lalat yang hinggap di
hidungnya, lalu membiarkannya terbang.” (HR. Bukhari)

Ketiga, dosa dan maksiat akan melenyapkan rasa malu. Padahal, malu
merupakan tonggak kehidupan hati, pokok dari segala kebaikan. Jika
rasa malu hilang, maka lenyaplah kebaikan. Nabi saw. bersabda, “Malu
adalah kebaikan seluruhnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Keempat, sulitnya menyerap ilmu keislaman. Ini karena dosa mengeruhkan
cahaya hati. Padahal, ilmu keislaman merupakan pertemuan antara cahaya
hidayah Allah swt. dengan kejernihan hati.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i pernah menuturkan pengalaman
pribadinya. Ketika itu, ulama yang biasa disebut Imam Syafi’i ini
merasakan adanya penurunan kemampuan menghafal. Ia pun mengadukan hal
itu ke seorang gurunya yang bernama Waqi’. Penuturan itu ia tulis
dalam bentuk untaian kalimat yang begitu puitis.

Aku mengadukan buruknya hafalanku kepada Waqi’

Beliau memintaku untuk membersihkan diri dari segala dosa dan maksiat

Beliau pun mengajarkanku bahwa ilmu itu cahaya

Dan cahaya Allah tidak akan pernah menembus pada hati yang pendosa

Ada satu dampak lagi yang cukup memprihatinkan. Seseorang yang hatinya
berserakan debu dosa enggan bertemu sapa dengan sesama mukmin. Karena
magnit cinta dengan sesama ikhwah mulai redup, melemah. Sementara,
kecenderungan bergaul dengan lingkungan tanpa nilai justru menguat.
Ada pemberontakan terselubung. Berontak untuk bebas nilai.

Perjalanan hidup memang bukan jalan lurus tanpa terpaan debu. Kian
cepat kita berjalan, semakin keras butiran debu menerpa.
Berhati-hatilah, karena sekecil apa pun debu, ia bisa mengurangi
kemampuan melihat. Sehingga tidak lagi jelas, mana nikmat; mana maksiat.

http://www.dakwatun a.com/2008/ selalu-ada- debu-dosa/