Dini hari itu, ruang kerja kami sudah lengang. Hanya tertinggal saya
dan beberapa rekan saja yang masih berada di kantor. Seusai deadline,
biasanya hal yang sangat saya sukai adalah memandang keluar dari balik
kaca kantor. Ditemani secangkir kopi, saya berkontemplasi dan mencatat
dalam memori apa-apa saja yang akan saya evaluasi. Saya tertegun
sejenak saat membaca buku tentang shalat. Betapa selama ini banyak
orang mengerjakan shalat, tapi belum sepenuhnya paham esensi salah
satu rukun Islam tersebut.

Jika ditelaah, shalat adalah ibadah yang menyehatkan. Shalat membawa
banyak manfaat yang luar biasa. Salah satu manfaatnya, shalat bisa
memperlancar peredaran darah. Maka, sudah semestinya kita bersyukur
karena Allah mewajibkan setiap muslim untuk shalat. Tidak lain, hal
tersebut bertujuan demi kebaikan hamba itu sendiri.

Zaman semakin modern, semakin banyak pula orang mengesampingkan ibadah
shalat. Ada saja alasan untuk tidak shalat. Pekerjaan yang menyita
perhatian, pikiran, dan tenaga dijadikan alasan melalaikan shalat.
Masya Allah.

Banyak orang mengaku muslim, tapi rukun Islam tentang shalat sering
diabaikan dan tidak dikerjakan. Saya pernah mendengar ada orang yang
mengatakan bahwa tidak shalat tidak apa-apa yang penting beramal baik.
Astaghfirulah, dari mana pemahaman seperti itu?

Allah berfirman: “Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka)
saqar ini? (Mereka menjawab) kami dahulu termasuk orang-orang yang
tidak menunaikan shalat.” (Al-Mudatsir 42–43).

Sudah pasti bahwa siksa Allah itu pedih. Meninggalkan shalat dengan
sengaja pun termasuk dosa besar. Tidak ada pengecualian untuk
meninggalkan shalat kecuali tiga hal. Yakni, anak kecil hingga baligh,
tertidur hingga bangun, orang gila hingga sembuh atau orang yang sudah
meninggal. Nah, jelaslah bahwa shalat itu tidak boleh ditinggalkan
dengan alasan apa pun. Maka, takutlah jika kita meninggalkan shalat.

Rasulullah SAW bersabda: “Seringan-ringannya siksa pada hari kiamat
ialah orang yang padanya diletakkan dua batu bara api neraka di bawah
tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu, dia merasa
bahwa tidak seorang pun yang lebih kuat siksaan yang diterimanya
dibandingkan orang lain. Padahal, sesungguhnya itulah siksaan yang
seringan-ringannya (HR Bukhari dan Muslim).

***

Dalam suatu perjalanan ke masjid untuk shalat Jumat, saya tertegun
karena di jalan masih begitu ramai. Aktivitas orang-orang pun masih
berlanjut. Saat azan diperdengarkan, masih banyak orang yang nongkrong
di warteg. Masih banyak orang yang sibuk belanja di mal atau pusat
perbelanjaan. Tidak sedikit pula orang yang masih sibuk dengan
pekerjaan mereka. Suara panggilan shalat ternyata masih banyak
direspons secara cuek. Padahal, mereka sadar bahwa shalat adalah
kewajiban. Shalat juga merupakan tiang agama. Siapa yang menunaikan
shalat, dia telah menegakkan tiang agama. Dan siapa yang meninggalkan
shalat, dia telah merobohkan tiang agama.

Dalam suatu kesempatan lain, saya menghadiri pemakaman tetangga
kampung kami. Tampak, beberapa anggota keluarga si jenazah larut dalam
kesedihan. Setelah dimandikan dan dishalati, kami mengantarkan
almarhum sampai di makam. Kami ikut memanjatkan doa dan setelah itu
kembali lagi ke rumah.

Saya tertegun dan berpikir, “Inilah (kuburan) rumahku kelak.” Orang
kalau sudah mati tidak akan bisa apa-apa. Dia tidak membawa apa-apa,
kecuali kain kafan. Putus sudah semua amalan di dunia jika maut telah
menjemput. Yang tertinggal hanya tiga perkara. Yakni, amal saleh
(jariyah), ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.

Malam-malam di kantor, saya kembali merenung, betapa banyak dosa yang
telah saya perbuat. Betapa dhaif dan lemahnya manusia sebagai hamba
ALlah. Sebab, tiadalah manusia bisa berbuat apa-apa selain karena
pertolongan Allah Yang Maha Perkasa. Dalam qiyamul lail, tak sengaja
mata saya basah. “Bisa apa aku kelak sesudah mati? Sebab, semua ini
hanyalah titipan-Mu ya Allah..”

Fajar hampir menjelang di balik kaca kantor. Dingin dan sepi. Lidah
ini seakan beku tak tahu harus berucap syukur apa lagi. Dua rakaat
Subuh begitu terasa damai dan nikmat. Lalu, mengapa masih banyak kaum
di antara kita meninggalkan shalat dengan sengaja? Betapa sebenarnya
Allah itu benar-benar maha pengasih dan penyayang. Namun, kebanyakan
hamba-hamba-Nya lupa akan segala curahan nikmat dan anugerah-Nya.
Padahal, jika mati, kita tidak akan membawa jabatan, keluarga, apalagi
harta.

Jangan sampai kita menyesal di kampung akhirat nanti hanya karena
terus memikirkan duniawai. Sebab, dunia hanya persinggahan sejenak dan
penuh senda gurau. Shalat adalah tiang agama. Maka, hendaklah shalat
itu dijadikan sebagai sebuah kebutuhan sebelum kelak kita akan
dishalati.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya, Kami telah memperingatkan kepadamu
akan (terjadinya) azab yang dekat pada hari manusia melihat apa yang
telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan orang kafir berkata:
“Aduhai! Sekiranya aku menjadi tanah!” (An-Naba’: 40).

mediamusliminfo