CERITA DIBALIK TANGIS ANAK BANGSAKU


Negeri ini begitu indah, subur, dan kata pujangga negeri ini adalah surga bagi rakyatnya, apa yang ditanam tumbuh dan akan menuai hasilnya dengan baik tapi masa-masa itu tinggal kenangan itu Cuma cerita masa lalu para pendahulu kita. Bumiku telah suram berkabut lahan bergambut tak lagi subur menemani tanaman-tanaman saudara-saudara petani dikampung lahanya begitu gersang bila tak mengunakan pupuk sulit untuk mencapai panen yang baik hingga mengantungkan kebijakan pemerintah untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan pupuk tapi saya kesusahan seharusnya menjadi kemudahana dengan bantuan orang lain tapi mereka justru menjadi objek bisnis yang menjanjikan bagi pemilik modal hingga orang-orang kecil semakin terhimpit, ketika pupuk sulit terpenuhi dan panenpun tak begitu baik namun harga dipasaran dari hasil panen mereka tidak setimpal dengan biaya operasional lahan dan pemupukan “Menyedihkan” lagi-lagi semua ini adalah ulah para tengkulak dan pemilik modal tidak hanya petani-petani tanaman pangan tapi juga dari seluruh sektor pertanian yang lainya seperti karet, sawit, kopi etc.

Keberuntungan dan kesenagan seolah-olah hanyalah milik orang-orang berada, semestinya merekalah yang berhak menikmati indahnya panorama negeri ini dengan jeri payah yang mereka lakukan pemerintah tidak lagi sebagai tempat bernaung bagi orang-orang kecil karena mereka Cuma menjadi objek pembangunan alias sebagai korban-korban kebijakan pembangunan tak berpihak dan para birokrat berpoya-poya menikmati uang rakyat yang sesungguhnya tak pantas mereka nikmati karena ada banyak hak orang-orang pakir didalamnya yang kini menjerit kelaparan, anak-anak menangis tak ada makanan, sekolah tak ada biaya mereka Cuma menjadi anak-anak jalanan yang tumbuh dan berkembang dalam dunia yang keras dan kejam.

Mereka adalah anak bangsa yang seharusnya tumbuh dan berkembang dilingkungan yang baik, bisa makan makanan yang memenuhi gizi dan bersekolah seperti anak-anak yang lain namun semua itu Cuma angan yang sungguh sulit dicapai dalam kehidupan mereka, sekeli lagi pemerintah telah membuat mereka menjadi para penerus kriminal atau premanisme dimasa depan karena mereka tak punya masa depan karena mereka belajar dari lingukang yang kejam jangan salahkan mereka jika suatu saat mereka Cuma menjadi penhuni-penghuni kolong jembatan, stasion dan terminal memeras, mencuri bahkan tak segan-segan menghilangkan nyawa orang-orang yang menjadi korbanya, salah siapa??? Tetap salah mereka karena mereka telah mengambil hak orang lain dan mereka akan menajdi bulan-bulanan polisi bila ketemu mereka disiksa setengah mati dibalik jeruji besi tak pernah berakhir cerita tragis ini dibalik masa lalu yang suram dimana masa depan mereka telah hilang dan hak-hak meraka sudah dirampas oleh zaman dan kini mereka tidak hanya harga diri yang di injak-injak tapi jasat mereka juga tersiksa dengan kuatnya sepatu pak polisi penegak hukum negeri ini yang begitu perkasanya dihadapanya anak-anak jalan yang Cuma mencuri dompet berisi uang tak seberapa untuk memenuhi jalan hidup dihari esok, memang mereka salah tapi siapa yang lebih bersalah dari semua ini???? Pemerintah melupakan atau terlupakan atau mungkin tak pernah ada dalam rancangan pembangunan negeri ini untuk orang kecil supaya mereka bisa menjadi pribadi yang mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan hidupanya sendiri namun dalam pengayoman dan pengawasan yang baik bukan Cuma sebagi cara untuk mengeluarkan kas negara kemudian untuk dibagi-bagikan namun yang kebagian hanya sendikit tapi yang banyak orang-orang berpura-pura miskin dan mengerogoti uang itu demi kesenangan pribadi.

Miris memang melihat bangsa ini bila kita melihat review politik dan ekonomi negeri ini sepanjang 2008 yang sebentar lagi akan berakhir dimana anak-anak bangsa ini akan bersuka ria menyambut tahun baru dengan meniupkan teropet dan berpesta pora semeriah mungkin tapi mereka tak tau kalau masa depan mereka sudah banyak hilang dan mereka Cuma dibuai dengan angan-agan semu dan kesenangan sesaat dibalik penderitaan anak-anak bangsa yang lainnya yang kini berada dilembah-lembah,gunung, hutan belantara digubuk-gubuk dan dikolong-kolong kehidupan masyarakat kota yang elit dan mewah tapi mereka Cuma sebagai penunggu jamban-jamban masyarat kota yang.

Terlalu lama diri itu melamun dan berhanyal maka anak semakin menderita diri karena semakin banyak beban kehidupan. Hmmm…….

Diakhir tulisan yang tak bertepi ini suatu pengharapan yang amat sederhana dari anak negeri ini alangkah indahnya hidup ini bila orang-orang kecil itu bisa hidup layak, mendapatkan pendidikan yang baik layaknya anak-anak lainnya dan mempunyai tempat tinggal yang sederhana hingga bisa menghabiskan jiwanya menunggu ajal bukan dikolong-kolong yang tak layak atau digubuk-gubuk.

YA ALLAH berikan kemudahan dan kelapangn bagi saudaraku dimanapun saat ini berada dan juga berikan ketabahan, kesabaran juga kejernihan untuk berpikir untuk senantiasa berada dalam jalan yang kau ridho (amin).

AnakKampoeng : Salendra.kms

Iklan

2 responses to “CERITA DIBALIK TANGIS ANAK BANGSAKU

  1. Itulah potret buram keberlangsungan kehidupan anak2 di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Menjerit rasanya melihat keadaan anak2 yang kurang beruntung melalui layar kaca. Semoga pemerintah segera mengatasi permasalahan ini secara bijak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s