1. Menjadi pengusaha muslim akan membuat tawakal kita kepada Allah Ta’ala lebih kuat dari karyawan, karena tidak jelasnya keadaan hari esok, kita benar2 tidak tahu apa yang akan terjadi, semua serba tidak terduga, banyak hal yang menakutkan yang membebani pikiran seorang pengusaha yang hanya dapat ditenangkan dengan banyak berdoa dan bertawakal. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. ” QS Ath Thalaaq : 3 2.

Menguatkan aqidah, bahwa hanya Allah-lah tempat bersandar, bukan uang tabungan di bank, bukan kartu kredit, bukan bos, dst… tidak ada siapa2 tempat bersandar selain Allah Ta’ala. Sedangkan menjadi karyawan umumnya akan merasa tenang dengan jaminan gaji yang rutin tiap bulannya, seolah-olah perusahaan selamanya akan tetap ada sehingga dapat menjamin rezekinya. “Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?” QS. Faathir : 3 “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” QS. Az Zukhruf : 32 3. Memaksa kita untuk lebih hati-hati, lebih bertakwa, karena kalau kita berbuat maksiat akan menyebabkan Allah murka, dimana ada dua kemungkinan yaitu jika Allah sayang kepada kita maka jalan kita dibuat sulit dan rezeki sempit, tujuannya agar kita sadar dan kembali kejalan yang benar, sedangkan jika Allah tidak sayang, maka bisnis tambah maju pesat, uang semakin banyak, tanpa ada kesulitan sama sekali, semua itu agar kita semakin lalai dan hanyut dalam kesesatan. Jadi harus extra hati2 dan lebih bertaqwa agar jalan kita lebih mudah. “Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa.” QS Yunus : 17 “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” QS Ath-Thalaaq : 65 4.

Melatih kesabaran yang sesungguhnya, karena banyak masalah dan kesulitan yang membuat kita marah, tertekan, stress, dsb… tapi kalau kita sabar justru akan membuka jalan untuk kesuksesan, karena sabar dalam Islam adalah kita menerima takdir yang sudah terjadi tapi terus berusaha untuk maju dan berbuat sesuatu untuk merubah keadaan agar lebih baik dari sebelumnya, bukan diam tidak berbuat apa2. Sedangkan menjadi pegawai yang terjadi lebih banyak NRIMO daripada sabar, karena kita terpaksa pasrah tidak bisa berbuat apa2 jika terjadi kedzaliman atau income yang kurang, komplain bisa2 dipecat. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” QS Al Baqarah : 153 5.

Optimis akan terwujudnya cita2 dalam kebaikan, misalkan kita bercita-cita “InsyaAllah kalau omzet ana sudah sekian… ana bisa membantu keluarga yang tidak mampu, membangun masjid, membuat pesantren, membangun rumah sakit, dsb…” cita-cita ini memiliki harapan besar untuk terjadi jika sebagai pengusaha, karena sebagai pengusaha semuanya serba mungkin, tinggal masalah waktu dan takdir Allah, sedangkan kalau jadi pegawai rasanya bermimpi saja sudah tidak mungkin, sangat berat untuk bercita2 seperti itu, karena income fix, dipotong biaya2 rutin sudah jelas sisanya tinggal sedikit yang kemungkinan besar habis untuk hal2 yang tidak terduga, seperti biaya untuk berobat karena sakit, dsb… tentunya bukan tidak mungkin itu terjadi pada seorang karyawan tapi dari proses/ikhtiar yang ada membuatnya tampak tidak mungkin, karena income sudah dapat diproyeksi sekian-sekian dari gaji yang diperoleh (kecuali Allah menakdirkan lain). “Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” QS. ath-Thalaq:7

Allahu’alam

Milis MQ