Al-Qur’an sendiri memberikan informasi bahwa Al-Qur’an memiliki
potensi supranatural dan penyembuh, perhatikanlah beberapa ayat
berikut ;

Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu
gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh
karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, tentu Al-Qur’an
itulah dia. (13 : 31)

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung,
pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut
kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia
supaya mereka berfikir. (59 : 21)

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah
kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (17 : 82)

Memang sebagian Ulama percaya bahwa mu’jizat Al-Qur’an hanya pada sisi
intelektual semata, mereka tidak percaya bahwa Al-Qur’an memiliki
kekuatan supranatural sebagai bentuk lain dari mu’jizatnya. Sebagian
Ulama lainnya percaya bahwa mu’jizat Al-Qur’an bukan hanya bersifat
intelektual, namun mereka juga percaya bahwa ada bentuk mu’jizat
lainnya yang bersifat supranatural. Kepercayaan mereka akan mu’jizat
Al-Qur’an yang seperti itu bukan kepercayaan tanpa dasar, namun mereka
memiliki dasar pijakan baik itu dari Al-Qur’an ataupun dari Hadits-
Hadits Nabi. Bagi mereka, bagaimana mereka akan menolak akan adanya
potensi supranatural pada Al-Qur’an sedangkan pada Kitab sebelumnya Al-
Qur’an mengakuinya.

Bukankah Anda pernah mendengar tentang kemampuan seorang pembantu/staf
pemerintahan Nabi Sulaiman, yang mampu memindahkan singgasana Ratu
Bulqis hanya dalam hitungan sekejap mata (tidak lebih dari 1 detik).
Al-Qur’an menyebut kemampuan tersebut diperoleh dari Kitab Allah yang
telah diturunkan pada saat itu (Kitab Zabur). Jika Kitab Allah saat
itu berpotensi supranatural dan diperbolehkan pemanfaatannya untuk hal
seperti itu maka mengapa Al-Qur’an yang sempurna dan lebih mulia kita
ragukan akan potensi supranaturalnya dan tidak diperkenankan
pemanfaatannya. Padahal, prinsip umum didalam Al-Qur’an – jika
menceritakan sesuatu dan itu dilarang maka pada saat itu juga Allah
menjelaskan larangannya. Lagi, jika perbuatan memanfaatkan potensi
supranatural Kitab Allah tidak diperbolehkan Allah – lalu mengapa Nabi
Sulaiman tetap menerima bantuan orang tersebut.

Agar lebih jelas perhatikanlah ayat-ayat berikut yang membicarakan
eksistensi ilmu ghaib atau supranatural pada Kitab Allah pada masa
Nabi Sulaiman serta kebolehan untuk memanfaatkan potensi tersebut
untuk tujuan positip. Allah berfirman;

“Berkata Sulaiman ;’Hai pembesar-pembesar, siapa diantara kamu
sekalian yang sanggup membawa singga-sananya kepadaku sebelum mereka
datang kepada sebagai orang-orang yang berserah diri. Berkata Ifrit
dari golongan jin ;’Aku akan datangkan (singgasana itu) kepadamu
sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu ; sesungguhnya aku benar-
benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya’. Berkatalah orang
yang mempunyai ilmu dari Kitab ;’Aku akan membawa singgasana itu
kepadamu sebelum matamu berkedip’. Maka tatkala Sulaiman melihat
singgasana itu terletak dihadapannya, iapun berkata ;’Ini termasuk
karunia Tuhanku untuk mencobaku apakah aku bersyukur atau mengingakri
(akan nikmat-Nya)….(An-Naml : 38 – 40)

Selain itu, didalam Hadits yang sangat terkenal diceritakan bahwa
Rasulullah pernah mengirim 30 pasukan perang. Dalam perjalanan pulang
yang cukup melelahkan mereka menjumpai sebuah perkampungan. Lalu
mereka mengharapkan penduduk kampung tersebut untuk menerima mereka
sebagai tamu. Akan tetapi permintaan mereka ditolak penduduk kampung
itu.
Bertepatan pada saat itu, pemimpin penduduk kampung tersebut dipatuk
oleh seekor ular, sementara itu tidak ada seorangpun diantara penduduk
kampung itu yang mampu menyembuhkan pemimpinnya dari bisa gigitan ular
tersebut. Melihat pemimpin mereka yang membutuhkan pertolongan, salah
seorang diantara penduduk kampung itu meminta bantuan kepada pasukan
kaum Muslimin untuk menyem-buhkan pemimpin mereka.

Abu Sa’id Al-Khudri salah seorang dari pasukan kaum Muslimin bersedia
menerima tawaran itu dengan mengajukan satu syarat yaitu dengan
pembayaran upah sebanyak 30 ekor kambing. Singkatnya permohonan Abu
Sa’id Al-Khudri itu diterima mereka, lalu pemimpin mereka
disembuhkannya yaitu dengan bacaan Al-Fatihah sebanyak 3 kali. Sesuai
dengan perjanjian, akhirnya Abu Sa’id medapat 30 ekor kambing.
Menyaksikan kejadian itu timbullah perbedaan pendapat pada pasukan
kaum Muslimin. Sebagian menolak upah tersebut dengan alasan itu
sebagai usaha yang haram. Dengan kata lain upah tersebut dinilai
sebagai perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai menjual ayat-ayat
Al-Qur’an. Selain itu, mereka memandang perbuatan tersebut telah
keluar dari areal keikhlasan dalam beramal. Sedangkan sebagian yang
lain menerima ikhtiar tersebut dengan alasan bahwa perbuatan itu masih
belum keluar dari nilai-nilai ajaran Islam.

Setibanya mereka di Madinah, akhirnya mereka melaporkan kejadian itu
pada Rasulullah. Mendengar laporan tersebut Rasulullah tidak
menyalahkan ikhtiar Abu Sa’id Al-Khudri tersebut bahkan Rasulullah
bersabda, “Tidak ada yang lebih berhak untuk diambil upahnya kecuali
dari membacakan (mengajarkan) ayat-ayat Al-Qur’an.”

Diantara pemahaman yang dapat kita ambil dari kisah tersebut yaitu
bahwa Al-Qur’an memiliki potensi ilmu ghaib. Salah satunya potensi
penyembuhan dari penyakit. Kisah yang telah kita simak tadi juga
menunjukkan kebo-lehannya memanfaatkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai
media untuk menyembuhkan penyakit seorang, bahkan Rasulullah sendiri
dalam keterangan yang lain menanyakan perihal daging kambing tersebut
karena beliau ingin juga mencicipinya.
Ibnu Qoyyim dalam kitabnya yang berjudul Madarijus-Salikin Juz 1
halaman 52 – 58 menulis bahwa penyembuhan dengan ayat-ayat Al-Qur’an
(khususnya surat Al-Fatihah) tidaklah dilarang dalam agama Islam dan
Al-Fatihah khusunya diakui memiliki efek penyembuhan atas berbagai
penyakit. Para ahli hadits sendiri memandang riwayat yang mengisahkan
kisah diatas sebagai hadits yang shahih.

Dari pandangan ini, maka tidaklah dilarang untuk memanfaatkan potensi
yang dimiliki Al-Qur’an. Rasulullah, ketika beliau ingin hijrah ke
Madinah pernah membaca beberapa ayat dari surat Yasin. Karena bacaan
yang ia baca, semua orang kafir yang sedang mengepung beliau tertidur
pulas. Padahal Nabi Saw bisa lakukan hal itu dengan berdo’a kepada
Allah – mengingat do’a Nabi sangat mustajab. Saat itu Nabi Saw tidak
mencari keselamatan dengan berdo’a mengingat beliau ingin menegaskan
hukum boleh dan mungkinnya memberdayakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk
kepentingan supranatural dengan contoh atau sunnah fi’liyahnya.
Dalam banyak keterangan Rasulullah menegaskan tentang adanya potensi
dahsyat yang dimiliki Al-Qur’an. Dinyatakan oleh beliau bahwa ayat
Kursi dapat mengusir kekuatan jahat dari bangsa jin dsb. Beberapa ayat
dari surat Al-Baqarah dinyatakan oleh beliau, jika kita membacanya
setiap pagi atau sore hari dapat melindungi diri yang membacanya dari
segala kejelekan dan kejahatan, serta banyak lagi keterangan-
keterangan lalinnya yang menegaskan adanya kekuatan ghaib yang
dimiliki Al-Qur’an.

Tidaklah kita pungkiri, bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat
manusia. Al-Qur’an diturunkan untuk dijadikan pedoman hidup agar
mereka tidak tersesat; akan tetapi, bukan berarti suatu kesalahan
apabila kita mengambil manfaat dari keutamaan Al-Qur’an. Memang, saya
juga sangat tidak setuju ketika seseorang hanya fokus pada sisi
mu’jizat supranatural Al-Qur’an semata – namun fungsi utama diturunkan
Al-Qur’an tidak diperhatikan. (agus suryaman – http://www.quranic.org)