Seperti banyak orang pada umumnya, diri ini juga mempunyai sebuah harapan besar dalam mengapai kehidupan yang lebih baik, mengapai masih sebuah harapan? Karena semuanya masih dalam masa perjalanan menuju kearah cita-cita itu.

Terlahir disebuah perkampungan dan dilahirkan sebuah keluarga sederhana dan sampai saat ini keluarga itu adalah yang paling membuatku bahagia karena mereka adalah orang yang melahirkan ku dan membesarkan juga memberikan kebahagian yang tak henti-hentinya meski diri ini belum mampu memberikan kebahagian kepada mereka, namun doa dan harapanku masih tetap kukuh untuk memberikan yang terbaik buat ayah, ibu, adik-adikku dan anak dan istriku saat ini.

Desaku adalah awalku meniti cita-cita saat ini, disana ku mendapatkan pendidikan awal bersama teman-temanku yang lain namun tak banyak teman-temanku yang melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan yang lebih dari SD paling ada tiga sampai 5 orang saja yang bisa menyelasaikan pendidikannya itupun sepengetahuan penulis temanku Cuma ada tiga orang yang baru lulus kuliah dan yang lainya rata-rata SD…….ya ada juga yang SMP dua atau tiga orang, ini adalah tanda pada masa itu tingkat pemikiran masyarakat begitu rendah akan pendidikan anak-anaknya namun tidak untuk ayahku, dia begitu gigih mendorong kami karena dia sudah pernah gagal dalam pendidikan alias bandel. Alhamdulillah untuk saat ini pola pikir lama itu sudah berangsur hilang dan sudah banyak anak-anak yang sekolah.

Desaku memang indah untuk bermain ukuran anak kampung sepertiku karena kampungku di lewati sunggai besar yaitu sungai lakitan yang membujur disamping jalan dan rumah penduduk, disinilah kebanyakan hari-hariku dihabiskan bersama teman-teman, baik bermain, memancing, menyelam dan banyak lagi permainan lainya. Namun semua itu harus berakhir ketika sekolahku selesai.

Sekolahku selesai, inilah langkah awal dari masa kecilku mencari jati diri, belajar jauh dari orang tua. Pada hari itu ku menginggalkan teman-teman dan keluargaku kampung diater ayah dan ibuku ke asrama tinggal bersama teman baru yang berbeda-beda bahasa dari pelosok kampung lain untuk menimbah ilmu juga sepertiku.

Minggu berlalu tak terasa hariku bersama teman baruku dan menanti bulan, namun hariku mulai terasa tanpa orang tua, sepi meski banyak teman tapi lebih sedih lagi karena uang saku sudah habis heeee……….tambah sedih deh. Bulanpun berlalu, ayah, ibu dan adikku yang bungsu juga ikut, tak terasa saat mengabil tangan orang tuaku air mata ini menetes “sedih juga box”, pikirku “gak enak juga ya jauh dari ortu”. Maklum saya belum pernah pisah dari ortu. Alhamdulillah hari, bulan bahkan tahun telah menempah jati diriku untuk berpisah dari ortu dan tempat inilah awal pencarian jati diri meski terlalu belia namun keadaan yang membuatku mesti berpikir lebih baik karena begitu banyak pengalaman yang ku dapat meski pendidikan ini begitu sulit pada awal era perubahan repormasi yang berimbas krisis moneter berkepanjangan dari berbagai lini kehidupan.

Salah satu pengalaman tak terlupakan pada masa krisis itu, seperti tempat lain pada umumnya lembaga kami terkenan imbas repormasi, makan diasrama jadi gak jelas karena lembaga tak sangup membiayayi dan juga takut menaikan bayaran karena keadaan begitu sulit yang bisanya satu minggu bisa makan daging, ayam, ikan dan telor tiap minggu jadi berubah kebanyakan makan sayuran kangkung, bayam, terong dll heee………dibalik kesulitan itu sebuah hal yang amat sangat menyesakkan hati dimana pimpinan pontang-panting cari tambahan buat makan santrinya namun dari bendahara malah menyelewengkan uang makan yang tak seberapa hmm….berawal dari itu ku mengapat mandat yang sepantasnya ku dapat untuk seorang anak belia kampung sepertiku, saya dimintak mejadi bendahara sementara dipesantren dengan keputusan tersebut hidup mulai didedikasikan pengabdian dengan orang yang ku hormati untuk menjalankan dengan baik dan penuh amanah namun begitu banyak halangan dan ringanan karen guru-guru lain mengangapku tak pantas menerima itu hingga berimbas pada prestasiku lima mata pelajaran nilaiku dijegal secara spontan preastasiku jauh turun akibat ketidak senangan guru-guru yang lain namun semuanya tak membuatku gentar karen ku yakin semua yang ku lakukan adalah hak “Cuma ALLAH yang tau”

Perjalanan itu semakin pelik setelah masa-masa berlalu dan berganti arah, guruku yang membelaku pergi untuk melanjutkan cita-citanya kenjenjang pendidikan tinggi lagi dan orang yang begitu benci denganku bahkan dahulu dia pernah mau membacokku dengan parang pada masa-masa caturwulan ke-2 1998 karena menuduhku memfitnah dia “wallahu” kutak melakukan hal itu ya tak gentar dong heee……meski kursi tahta sekarang jadi miliknya bukan berarti diri ini takut namun tetap meniti hari demi hari meski sulit, suatu hari aku dan dua temanku yang lain yang juga sama pemikirannya denganku pernah dihukum dilapang disuruh berdiri ampe tengah malam gelap dan banyak nyamuk lagi trus sesudah itu dimarahin juga namun satu kata yang ku ingat dan ku bagikan dengan temanku tolong jangan dilupanka dan kita lihat nanti. Apa itu katanya? “sekarang kalian tau dulu kalian menjelek-jelekku sekarang kalian lihat “aku mengan” heee……ingat ya temen-temen dia uda menagang and kita liat aja nanti.

Hari dan bulanpun berlalu dan ternyata allah memberikan jawaban atas itu semua, ternyata dia tak bertahan begitu lama di tahtanya dan mereaka sekeluarga diusir dari lembaga oleh yayasan “ku Cuma bilang ketemen-temen hmm….inilah kemenangannya”

Namun dalam diriku tak ada sedikit nodah yang terpendam karena ku tak salah dan sampai saat ini hubungan ku dan orang yang menjadi guruku dan mengangapku musuh sekarang tetap terjalin baik bahkan dari semua kejadian itu dia begitu baik padaku seolah tak ada cerita masa lalu……inilah indahnya. Semuanya allah yang mengatur

Namun dari semua kejadian itu ada sebuah catatan kecil yang tak pernahku lupakan

Tiap cobaan dan tantangan dalam hidup ini maka kita akan menuia apa yang kita perbuat dan ketika kita mampu dan berbahagia bangkit dari cobaan maka bersiaplah menghadapi cobaan tinggakatanya yang lebih seru lagi so jangan terlena dalam keberhasilan sesat namun bersiaplah ketika keadaan itu berbalik.

Jangan pernah menyerah berjuang mengarungi perjalan singkat dunia fana ini kita cuma bermanin-main saja so bermainlah yang afik bila ingin meraih kemenangan