Dalam salah satu syairnya WS Rendra mengatakan “Terali besi takkan merubah rajawali menjadi burung nuri”. Saya setuju, wujud fisik rajawali tetaplah rajawali meski berada dalam terali besi. Rajawali takkan bermetamorfosis menjadi burung nuri hanya karena jasadnya terkurung dalam terali besi.

Persoalannya adalah dalam terali besi rajawali tak mampu mengekspresikan segala potensi yang dimiliki melainkan sebatas kemampuan burung nuri. Kualifikasi rajawali yang mampu terbang tinggi menjadi tak berarti, kegagahannya menembus awan, melintasi udara menjadi tak berguna. Sang rajawali pada akhirnya harus beradaptasi dan berlaku sebagaimana layaknya burung nuri jika terlalu lama terkurung dalam terali besi.

Kita menyaksikan banyak orang memiliki potensi yang luar biasa, namun berada dalam ruang sempit yang tak memungkinkannya mengekspresikan segala potensi yang mereka punya. Terali besi mewujud dalam bentuk lingkungan sosial, lingkungan organisasi, maupun lingkungan pekerjaan. Kita menyaksikan banyak orang yang memiliki potensi jauh melebihi kemampuan yang dimiliki organisasi, namun tetap bertahan dan memilih berkompromi dengan keadaan. Pada akhirnya kelebihan potensi yang dimiliki harus direlakan sehingga tak lebih hanya menjadi bakat terpendam yang tak pernah terekspresikan.

Para pengejar mimpi memilih ruangnya yang sesuai untuk mengekspresikan semua potensi yang dimiliki dalam mewujudkan impiannya. Mereka tidak pernah terbelenggu oleh situasi, karena mereka berusaha untuk menciptakan situasi. Mereka juga tidak mau terjebak dalam situasi yang seolah langka pilihan, yang sesungguhnya seringkali sengaja diciptakan oleh mereka yang merasa diri sebagai atasan. Membiarkan diri dalam situasi langka pilihan sama saja dengan membiarkan lingkungan mendegradasi segala kecerdasan.

Ketika Rosulullah melakukan da`wah terang-terangan, dan mendapatkan ancaman terang-terangan, Rosul terus berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan visinya. Namun pada titik tertentu Rosul menghadapi penentangan yang begitu hebat secara berkelanjutan, sampai akhirnya Rosul mengambil kesimpulan bahwa Mekkah dengan kondisi sosial yang dimilikinya belum menjadi tempat yang kondusif untuk merealisasikan visi. Masyarakat Mekkah beserta para pejabat dan pemuka adat yang ada didalamnya telah bahu membahu, bekerja sama melakukan tipudaya, mendirikan terali-terali besi bagi Rosul dan para sahabatnya. Tidak ada ruang yang cukup bagi rosul dan sahabat-sahabatnya yang setia untuk mengekspresikan segala potensi yang mereka punya dalam merealisasikan visinya.

Rosul tidak membiarkan dirinya terperangkap dalam penjara sosial yang menyulitkannya mewujudkan impian. Rosul juga tidak berkompromi dengan para penentangnya yang berusaha menciptakan terali besi untuk menghentikannya memperjuangkan visi. Suatu hari para pembesar Mekkah datang kepada rosul, dengan segala tipu dayanya meminta rosul menghentikan da`wahnya. Apa jawab rosul? Dengan tegar rosul mengatakan “apabila matahari kau letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku untuk menghentikan da`wahku, maka niscaya aku takkan menghentikannya”.

Hari-hari tanpa negosiasi dan kompromi terus terjadi, eskalasi ancamanpun semakin menjadi-jadi. Rosulullah bukan sekedar menghadapi acaman pemecatan dari pekerjaan, atau pemecatan dari jabatan keorganisasian, apalagi ancaman pemecatan dari keanggotaan kepartaian. Rosul menghadapi ancaman pemboikotan sosial bahkan ancaman pembunuhan. Tapi rosul tetap tegar diatas jalan impian tanpa harus kompromi untuk menghentikan segala perjuangan mewujudkan impian.

Ketika tidak adalagi ruang yang kondusif untuk merealisasikan visinya di Mekkah, maka Rosulullah tidak ragu untuk melakukan hijrah. Hijrah Rosulullah dilakukan tidak lain untuk mencari ruang yang dapat memberikannya kebebasan untuk berda`wah dan beribadah. Suatu kebebasan yang diperlukan untuk merealisasikan visinya. Madinah menjadi ruang sosial yang luar biasa bagi mereka yang ingin merealisasikan mimpi-mimpinya. Masyarakat madinah yang plural memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk mengembangkan ide dan gagasan serta memberi kebebasan yang cukup untuk merealisasikan setiap ide dan gagasan. Disinilah Rosulullah menemukan ruang untuk merealisaikan visinya dan memulai membentuk dasar-dasar masyarakat dengan satu peradaban baru baru yang tidak pernah ada sebelumnya.

Mari kita sejenak melihat diri kita dan mimpi yang tengah kita perjuangkan, mari sejenak kita melihat lingkungan dimana mimpi kita menemukan ruang untuk tumbuh dan berkembang. Periksalah dengan teliti lingkungan sosial kita, lingkungan pekerjaan kita, maupun lingkungan keorganisasian kita. Adakah terali-terali besi yang dapat mengubur segala mimpi? Adakah penjara-penjara yang bisa menghancurkan semua potensi yang kita punya? Adakah kekuatan-kekuatan yang bisa membunuh semua harapan? Semoga kita tidak menemukan. Andaikan kita menemukannya, semoga kita mampu mengatasinya. Andaikan kita tak mampu mengatasinya, semoga kita memiliki keberanian untuk meninggalkannya.

mnajib23@yahoo.com
http://www.eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/mukhamad-najib-mimpi-butuh-ruang-tumbuh.htm