Masih ingatkah anda ketika pertama kali Allah berkenan memberi jalan menuju kebaikan, dan aku sendiripun melupakan.  Kebaikan yang memberi kita menjadi ikhlas beribadah dengan penuh ketaatan. Waktu itu, kita mungkin begitu sensitif sedikit saja mendengar kalamullah butiran-butiran lembut air mata ketundukan mudah jatuh dari sudut mata kita. masihingatkah kita akan waktu itu? ketika kita diperemukan dengan sebuah peristiwa yang menjadi sejarah baru yang mampu merubah arah berfikir kita.

Akan tetapi, lamanya kita hadir di majelis-majelis ilmu tak juga menjadi hati kita untuk se sesnsitif dulu lagi, keras dan keras. Berpuluh-puluh buku yang kita lahap tak mampu juga membuat hati kita luluh untuk tunduk demi takut kita kepada ilhi rabbi. Sudah sekeras itukah hati kita kini? lantunan-lantunan ayat-ayat suci kalamullah seolah olah tak mampu menggetarkan hati kita. Akankah kita lupa waktu itu? Menangis dan menangis, bahkan sujud-sujud panjang dalam qiyamul lailpun begitu hampa tanpa tangisan ketakutan dan ketundukkan. Setebal apakah karat-karat dosa yang menempel pada hati kita, entah sampai kapan hatiku sekeras ini.

Memaksakan diri untuk menangispun tak mampu,  betapa kini telah tebal karat-karat dosa lantaran perbuatan maksiat yang mengisi sebagian umurku. Aku hampir-hampir tak percaya ini telah terjadi, dunia yang fana ini begitu mempesona, fitnah yang diselimuti keindahan kian memukau bahkan kesombonganpun mulai terselip menambah kerasnya hatiku. Aku coba menagis dan terus menangis, hingga pening kepalaku karena memaksakan diri untuk menangis. Ada apa gerangan akan hatiku ya rabb? bantu akau untuk menangis karena takut akan mrka_Mu, bantu daku untuk menangis karena menghiba memohon kepada_Mu, bantu daku ya rabb…mengapa kering air mataku dari penyesalan.

Di pojokan masjid aku mencoba merenungi dan ternyata aku sadari betapa berjuta-juta dosa bahkan lebih dosa telah aku perbuat. Aku sadar bahwa Engkau Maha Pengampun akan hamba_Nya. tapi kedzalimanku tak mampu melembutkan hatiku dan menangis dengan penuh penyesalan. Tidak aku sangga sudah seperah itu dosa yang aku perbuat. Untuk hatiku, betapa engkau kini telah berkarat yang membuat aku terasa berat utuk menagis mneyesal dan takut akan mura_Nya.

Aku mencoba menyendiri bak gadis pingitan, meratap dan berharap. Aku mencoba menyelami isi hatiku, di manakah hatiku kini yang dulu mudah untuk menangis karena dosa dan takut akan neraka, “aina qalbi, aina qalbi, aina qalbi…”. Seorang Dzunnun al mishri berjalan menyusuri pinggiran jalan setapak demi mencari hatinya, hati yang tunduk, hati yang pasrah akan Kehendak Allah yang Maha Rahmah. Ternyata hatinya di temukan lantaran anak kecil yang merengek minta belas kasih dari ibunya. Kasih sayang dari siapa lagi jika Allah Ta’ala tidak memberi kita kasih sayang, ampunan dari mana lagi jika Allah tidak memberi ampunan pada hamba_Nya. Sungguh kesombongan tinggallah kesombongan. Kita lupa bahwa kita tercipa dari setetes air mani yang hina.

Dan akhirnya, butiran air mataku menetes dari sudut mataku di akhir tulisanku ini. Aku temukan hatiku ikini…

share tulisan