Oleh: Veronica Colondam

Life Skills atau keterampilan hidup adalah keterampilan yang dibutuhkan setiap anak untuk survive dalam pergaulan dan hidupnya. Keterampilan ini dapat membantu mereka untuk dapat memilih hal yang tepat dan menghindar dari situasi yang mungkin dapat menjatuhkan mereka; termasuk memperkuat pertahanan dan ketahanan mental anak yang membuat mereka resistan (terhadap tawaran narkoba) dan resilient (berkemampuan untuk bertahan) dalam menghadapi masalah hidup.
Untuk menjadi orangtua yang efektif di era kini, Anda perlu memasukan aspek pengajaran life skills atau yang dikenal dengan istilah ‘keterampilan hidup’ kepada anak. Yang termasuk di dalam keterampilan hidup ini saya bagi dalam tiga bagian besar, yaitu:

– Self-Improvement Skills: Keterampilan yang membangun diri anak (self-esteem, managing feeling/emotions, coping skills, decision making skills)

– Relational Skills : Keterampilan yang membangun hubungan antara anak dengan lingkungannya (assertion, handling conflict, building positive relationships)

– Lifelong Skills : Keterampilan yang membangun hidup dan masa depan anak yang bertujuan dan bermakna (goal setting, identifying talents/intelligence, the art to live meaningfully).

David Wilmes dalam bukunya Parenting for Prevention (1995) menyebutkan beberapa metode untuk mengajarkan anak berbagai keterampilan hidup:

– Modeling adalah sangat penting bagi orangtua untuk menjadi teladan bagi anaknya. Sejak kecil anak memimik apa dan cara orang-tuanya hidup. Perkataan dan perbuatan jelas akan lebih ‘berbicara’ dibanding hanya memberikan nasihat. Bagaimana orangtua mengamalkan keterampilan hidup yang dimilikinya membuat anak belajar dari apa yang dilihatnya dan bukan apa yang dedengarnya saja.

– Reinforcement adalah sebuah dorongan yang diberikan orangtua kepada anak saat si anak kedapatan melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan harapan anda. Anda dapat memebrikan dorongan secara verbal (“Nak, kami bangga dengan kamu. Kamu bertanggungjawab dan melakukan semua pekerjaanmu dengan baik tanpa disuruh.”) atau nonverbal (memberikan acungan jempol, peluk atau sentuhan). Menurut Wilmes, “menangkap anak di saat berkelakuan baik” dan memberi mereka dorongan dan pujian adalah salah satu metode pengajaran yang sangat berpengaruh dalam perkembangan si anak.

– Consistency apa yang anda ajarkan, bagaimana anda hidup, bagaimana anda bereaksi terhadap perbuatan anak dan peraturan yang telah disepakati adalah hal-hal yang orangtua harus lakukan secara konsisten. Jika tidak, hal ini akan membingungkan anak dan mengurangi rasa amannya.

– Practice. Practice.Practice Beberapa ahli pendidikan mengatakan life skills perlu dipelajari dan dilatih dalam suasana yang berisiko rendah (dalam suasana rumah/keluarga) dalam rangka mempersiapkan anak untuk mempraktikkannya di lingkungan mereka yang sebenarnya, seperti di sekolah dan dalam lingkungan pergaulannya. Uji coba life skills dalam “lab rumah” ini dapat meningkatkan kepercayaan diri anak dan mempertajam keterampilan mereka ini untuk menghadapi situasi yang sebenarnya di luar.

– Make rooms for mistake Sama seperti belajar naik sepeda, jatuh adalah hal yang lumrah.Pastikan anak anda merasa aman untuk berbuat kesalahan. Kesalahan ini sebenarnya dapat diminimalkan melalui latihan-latihan di atas. Jika anak melakukan kesalahan, upayakan kita tidak langsung’menerkam’mereka karena ini akan membuat mereka takut. Pada saat mereka takut, mungkin kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan tersebut bisa hilang sama sekali dan bisa jadi mereka akan menjadi ekstrem. Sampai mereka dapat misalnya membuat keputusan atas dasar pertimbangan yang baik, orangtua diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan sebagai pembimbing di saat anak membutuhkan nasihat.

– Patience Tidak ada kata lain yang tepat untuk orangtua dalam hal mendidik anak. Kesabaran merupakan kunci utamanya walau sering kali sangat sulit untuk dilakukan. Wilmes menganalogika kesabaran seperti otot, semakin dilatih, semakin kuat.

http://www.pelangi-tc.c”>Sumber