JAKARTA, KOMPAS.com – Ibu Y, 14 tahun menikah, memiliki 3 anak, menulis surat tentang kebingungan dan kepedihan dalam hubungan dengan suami. Ada pesan yang bertolak belakang, yang bila kita pilah-pilah dan susun kembali, sepertinya menjadi kumpulan ”puzzle” yang bermakna dan semoga dapat membantu Ibu Y memahami persoalan dengan lebih baik. Suami orang baik

Sebetulnya suami saya orang baik, supel, ramah, suka menolong. Perkataannya manis, royal dalam mengeluarkan uang, kadang iri, ingin menjadi teman ketimbang istri.

Suami saya lebih mementingkan pertemanan daripada saya sebagai istrinya. Dulu, sewaktu kami berteman, saya merasa nyaman karena ada teman yang mau mendengar curhatan saya.”

Di bagian lain: ”Suami saya orang yang bertanggung jawab, sayang anak, dan setia. Walaupun sedang ada masalah, suami selalu pulang tepat waktu.”

Menyakitkan

Setelah menjadi suami semua berubah. Sekarang, suami gampang tersinggung, pendendam, selalu menyimpan kebencian. Kata-kata sayang dan cinta berganti kata-kata menyakitkan, merendahkan, bahkan sampai merendahkan keluarga saya.

Ia selalu membanggakan teman-teman wanitanya, ibunya. Di matanya saya seperti sampah yang tak berharga sama sekali. Kalau suami marah bisa berhari-hari dan selalu saya yang meminta maaf lebih dulu. Kadang saya tidak tahu apa kesalahan saya.

Suami cuek dan marah-marah kalau pekerjaan rumah ada yang kurang berkenan. Jadi saya merasa seperti PRT dan pelayan gratisan. Kalau setiap bulan menerima gaji pas-pasan, saya diminta prihatin. Tetapi, kalau menerima gaji lebih, marah tiba-tiba, seperti takut saya minta.

Meragukan keberartian

”Yang selalu diprioritaskan dalam hidup suami saya adalah hobi (motor, touring, fotografi), pekerjaan, komputer, teman-teman, terakhir anak-anak. Saya tidak tahu apakah saya termasuk orang yang berarti bagi hidupnya. Saya tidak pernah complain dengan hobi dan kesibukannya karena saya sayang dengan suami. Jadi, apa pun yang dia lakukan selama hal itu bisa membuatnya bahagia dan tidak mengganggu rumah tangga kami selalu saya support.”

Dianggap rendah

Saya selalu belajar menerima segala kekurangan suami. Dulu saya orang yang paling sulit meminta/memberi maaf dan suami mengajarkan saya untuk bisa menjadi orang pemaaf. Kini malah suami yang sulit meminta dan memberi maaf. Selalu saya yang memulai meminta maaf walau saya tak pernah tahu kesalahan saya.

Setiap ada masalah dan ingin membahasnya, suami mengelak. Dia lebih suka menganggap tak ada masalah. Setiap kali marah, semua masalah yang dipendam bagaikan bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak karena sering diungkit-ungkit.

Istri tetap cinta

”Saya sangat mencintainya dari awal bertemu sampai detik ini. Ternyata tidak demikian dengan suami, mungkin dulu suami saya memang mencintai saya, tetapi tidak hari ini.”

Mungkin rumah tangga kami bisa bertahan sampai hari ini karena anak-anak. Suami sering mengatakan ingin pergi dari rumah, tetapi berat meninggalkan anak-anak. Saya jadi khawatir apabila anak-anak sudah mandiri suami saya bisa meninggalkan saya.

Posisi tawar

Saya pernah bekerja dan baru berhenti dua tahun lalu karena ingin fokus dalam berumah tangga. Ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Saya tahu diri, saya bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Apalagi suami sudah sarjana, lengkaplah sudah hinaan ditujukan kepada saya.

Karena sikapnya itu, kalau suami saya memeluk erat dan suka mencium saya tiba-tiba, saya tidak surprise. Malah saya takut ke-ge-er-an. Karena kalau suami marah, rasanya cinta itu benar-benar sudah pergi. Saya sering membesarkan hati sendiri dengan mengatakan hidup saya lebih baik dari mereka yang kurang beruntung dan suami saya masih lebih baik dibanding mereka yang pernah menderita KDRT. Itu membuat saya bisa bertahan dan tidak malu terus meminta maaf lebih dulu dan melakukan perbaikan diri. Walau saya tidak bisa mengharapkan suami melakukan hal yang sama.”

Kepercayaan diri

Sepertinya ada cukup banyak istri seperti Ibu Y. Memulai perkawinan dengan penuh cinta, berkorban dan melayani suami, tetapi kemudian perlahan-lahan kehilangan posisi tawar dan kepercayaan diri. Para istri perlu mengecek, apakah rasa tak berdaya lebih kuat dirasakan setelah tidak lagi bekerja sehingga harus sepenuhnya tergantung secara finansial kepada suami?

Kita perlu pula berefleksi, sejauh mana sesungguhnya pasangan telah bersikap benar-benar menyakitkan, ataukah kita yang menjadi lebih sensitif karena tanpa disadari telah kehilangan rasa bangga dan percaya diri.

Meyakini pembagian kerja jender yang terlalu kaku dengan menempatkan diri sebagai istri yang selalu siap berkorban dan melayani secara satu arah tanpa kesalingan sesungguhnya kurang bermanfaat. Istri adalah manusia yang punya potensi dan aspirasi pribadi, butuh meyakinkan diri bahwa ia adalah manusia berharga.

Suami juga perlu memahami istri adalah pribadi terpisah yang akan bahagia dan dapat membahagiakan orang lain (suami dan anak) bila ia memiliki jati diri. Hilangnya harga diri istri sesungguhnya dapat menjadi awal hilangnya kebahagiaan berkeluarga.
Semoga ibu Y berani mengambil langkah-langkah untuk menghadirkan kembali jati dirinya dan suami juga memberikan penghargaan agar hubungan kembali menyenangkan dan menguatkan bagi seluruh anggota keluarga. (Kristi Poerwandari/Psikolog)