Oleh: Ustadz Sulthan Hadi

Disebuah ruang sekolah dasar, seorang guru berdiri didepan kelas sedang mengajar murid-muridnya yang masih duduk di kelas tiga. Guru tersebut coba menerangkan keistimewaan dan urgensi shalat Shubuh kepada mereka. Dengan bahasa yang tertata baik dan metode penyampaian yang sempurna, sang guru berhasil menanamkan kesadaran ibadah pada murid-muridnya. Bahkan, seorang anak laki-laki diantara murid-murid itu, sangat tersentuh mendengar penjelasan indah tentang pentingnya shalat Shubuh berjemaah di mesjid, sehingga muncul rasa penasaran di hatinya. Terlebih anak kecil tersebut memang belum pernah sekalipun melakukan shalat Shubuh selama hidupnya, dan juga tidak melihat keluarganya melakukan itu.

Setelah kembali ke rumahnya, kata-kata gurunya tentang shalat Shubuh terus terngiang di telinganya. Ia kemudian berpikir mencari cara, bagaimana bisa bangun pagi untuk melaksanakan shalat Shubuh. Lama ia berpikir, tapi tak ada solusi yang ia temukan kecuali harus berjaga sepanjang malam. Maka ia pun melakukan itu. Susah payah ia menahan kelopak matanya dimatanya itu, agar tidak terpejam. Tapi dengan usahanya yang sungguh-sungguh, akhirnya ia bertemu dengan Shubuh.

Begitu suara adzan terdengar, segara ia berwudhu dan bersiap menuju masjid. Namun ketika membuka pintu, anak kecil itu terperangah. Kesulitan besar menghadang di depannya. Ia sadar bahwa masjid ternyata cukup jauh dari rumanhya, sementara di luar sana masih terlihat gelap dan sepi. Ia tak punya keberanian yang cukup untuk menembus kesunyian Shubuh yang berselimut kegelapan, dengan usianya yang masih delapan tahun. Akhirnya, ia teduduk didepan pintu dengan rasa kecewa yang dalam, dan dengan suara tangis yang tertahan, karena takut di ketahui dan di marahi orang tuanya.

Dalam balutan sedih dan kecewa, tiba-tiba anak tersebut mendengar suara langkah kaki melintas di jalan depan rumahnya. Buru-buru ia membuka pintu dan berlari pelan-pelan mendekati sumber suara. Riang bukan kepalang. Sebab ternyata, suara itu adalah langkah kaki dari kakek temannya bernama Ahmad, yang sedang berjalan menuju masjid. Dia pun segera mengikut di belakang kakek itu, perlahan dan tanpa suara, agar si kakek tidak mengetahuinya dan mengadukannya kepada ayahnya.

Hari berikutnya, anak ini selalu melakukan hal yang sama, dengan cara yang sama. Setiap pagi ia bangun Shubuh, tanpa sepengetahuan seorangpun dari keluarganya, lalu berangkat  ke masjid menunaikan shalat Shubuh, membuntut si kakek dengan langkah kaki ringan dan pelan agar tidak ketahuan. Akan tetapi kebersamaan abadi adalah hal yang mustahil. Beberapa bulan kemudian, si kakek meninggal.

Si bocah kecil tersebut pun tahu, dan berita kematian si kakek adalah duka yang mendalam baginya. Ia menangis. Terisak-isak. Sang ayah yang melihat perilaku anaknya, merasakan ada sesuatu yang aneh. Dia lalu bertanya, “Nak, mengapa kamu menangis seperti itu. Kakek si Ahmad kan bukan anak kecil seusiamu yang kamu bisa bermain dengannya. Dia juga bukan kerabat kita sehingga kamu tidak perlu merasa kehilangan dia.”

Anak itu lalu menatap ayahnya, dengan air mata yang terus mengalir dan wajah yang tampak begitu sedih, seraya berkata “Andai saja yang mati itu adalah ayah, dan bukan kakek itu!”

Mendengar ucapan anaknya si ayah seperti tersambar petir. Ia kaget luar biasa. “Kenapa anak sekecil ini bisa berkata-kata seperti itu? Lalu kenapa ia mencintai si kakek sedemikian dalam?” pikirnya dalam hati. Anak itu lalu berkata, “Aku tidak merasa kehilangan karena dia teman mainku atau karena kerabatku, seperti yang ayah katakan.”

“Lalu kenapa?” tanya ayah penasaran.

“Karena shalat. Karena shalat,” tegas si anak.

Dengan suara serak dan berat ia mengajukan tanya, “Kenapa ayah tidak shalat Shubuh? Kenapa ayah tidak seperti kakek itu dan seperti orang-orang yang aku lihat itu?”

“Dimana kamu melihat mereka?” desak ayah itu.

“Di masjid,” jawab anak itu singkat.

“Bagaimana caranya kamu bisa melihat mereka?” tanya ayahnya lagi. Si anak pun lalu menceritakan pengalamannya selama ini yang setiap Shubuh selalu membuntuti si kakek. Hampir saja air mata si ayah tumpah mendengarkannya. Seketika ia peluk anaknya erat-erat. Cerita anak itu telah menjadi pelajaran sangat berharga bagi ayah, dan sejak itu ia tak pernah lagi menginggalkan shalat lima waktu berjemaah di masjid.

Kisah ini adalah potret nyata seorang anak kecil yang secara perilaku melampaui usianya. Ia denagn sebuah sentuhan kesadaran di jiwanya, dia telah melakukan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupannya, dan dalam kehidupan keluarganya. Dia telah berhasil mendakwahi orang tuanya. Dia telah sukses mengetuk kesadaran ayahnya untuk bangun pagi dan melaksanakan shalat. Dia telah menjadi da’I bagi segenap keluarganya, dengan caranya sendiri, dimana tugas itu seharusnya dilakukan oleh orang-orang dewasa dan terpelajar. Karena itu, DR. Sa’ad Riyadh yang menceritakan kisah ini dalam bukunya Abaa’wa Abnaa’, memberi catatan penting: jangan kau remehkan kata-kata dari anakmu, sebab terkadang dari situlah awal perubahan dalam hidupmu.

Anak-anak itu sesungguhnya adalah miniatur manusia dewasa. Mereka memiliki semua perangkat manusia dewasa. Hanya kadarnya saja yang mungkin berbeda. Meraka punya emosi. Mereka punya rasa. Merekapun punya hati, jiwa, dan akal sehingga mereka bisa tersentuh, bisa mencintai, bisa menyayangi, dan bisa bertanggung jawab, sebagaiman mereka juga bisa marah, kecewa dan bersedih. Pereangkat-perangkat kemanusiaan itu telah melekat dalam diri mereka, berkembang seiring dengan pertumbuhan usianya. Tapi di sebagian anak, perangkat-perangkat itu terkadang bekerja lebih cepat karena pengaruh dan desakan faktor-faktor tertentu dalam lingkungannya, sehingga seringkali kita menemukan ada diantara mereka yang bersikap, bertindak, berperilaku, berakhlak, dan berbicara melampaui usianya. Melakukan sesuatu yang tidak dilakukan anak-anak sebayanya. Mereka dewasa dalam usianya ynag masih kanak-kanak.

Mungkin kita masih ingat dengan bocah perempuan bernama Sinar yang beberapa waktu lalu yang beritanya sempat mengguncang perasaan kita. Bocah enam tahun itu, dengan cinta dan sayangnya rela mengabaikan masa kecilnya demi merawat si ibu yang sedang sakit.

Murni, nama ibu anak itu, mengalami lumpuh ketika suaminya sedang merantau ke Malaysia mencari nafkah. Jadilah Sinar yang membantu dan menemani ibunya, sendiri. Tubuhnya yang mungil dengan tenaga yang pasti tak seberapa, melakukan semua hal untuk urusan dan kebutuhan ibunya; memindahkan dan menggeser tubuhnya, memasak, member makan dan minum, memandikan, hingga membantu buang air. Semua itu ia kerjakan sendiri dengan penuh cinta.

Murid kelas satu sekolah dasar itu bahkan kerap terlambat ke sekolah karena harus mengurus ibunya. Begitu pula setelah pulang sekolah. Nyaris seluruh waktunya ia persembahkan untuk ibunya yang sakit parah. Tayangan televise yang memberitakan aktivitas Sinar merawat ibunya, sanggup meruntuhkan air mata kita yang menyaksikannya. Ada rasa iba dan takjub pada sosok bocah kecil tersebut yang tampak penuh tanggung jawab melakukan tugas mulianya, menusap mesra pipi ibunya.

Nan jauh disana, dinegri tirai bambu, ada sosok Tse Tse yang setiap hari menyuapi, menyeka muka, dan memijit tubuh ayahnya, Xiong Chun, yang lumpuh.

Karena ayahnya lumpuh bertahun-tahun, anak yang juga seusia Sinar itu terpaksa ikut memikul tanggung jawab rumah tangga yang tidak ringan. Selain setiap hari mengurusi ayahnya, Tse Tse juga membantu ibunya memungut dan mengumpulkan botol air mineral bekas, sebagai tambahan pendapatan keluarga.

Dua bocah kecil ini: Sinar yang tinggal di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dan Tse Tse di Jiangsu, China, dalam kisah mereka masing-masing sekali lagi memberikan kita contoh akan anak-anak kecil yang melampaui usianya. Dan jika kita perhatikan kisah keduanya maka ada satu keadaan yang sama pada diri mereka yang kemudian memaksa mereka untuk mengambil tanggung jawab dan peran-peran besar di luar usia mereka, yang mempercepat kematangan perangkat-perangkat tertentu dalam diri keduanya. Keadaan itu adalah beban dan kesulitan yang menimpa kehidupan keluarga mereka.

Memang, beban kehidupan menjadi faktor dominan yang kerap kali mengubah keadaan seorang anak. Ketika sebuah tanggung jawab yang seharusnya yang di pikul oleh dewasa, namun ternyata orang dewasa itu tak ada di sisi mereka, maka saat itulah mereka akan berusaha dengan cara dan kemampuan mereka sendiri untuk mengambil alih tanggung jawab. Sinar, misalnya walaupun ia memiliki 5 orang kakak, namun mereka semua tinggal terpisah dengannya. Faktor ekonomi membuat mereka menjadi pembantu rumah tangga. Sehingga Sinar tidak bisa mengadukan keadaan ibunya kepada kakak-kakaknya itu.

Tentu beban dan kesulitan bukan satu-satunya faktor yang membuat seorang anak lebih cepat dewasa dari usianya. Sebab seperti yang sudah di sebutkan diatas, anak-anak memiliki perangkat-perangkat kemanusiaan seperti yang dimiliki umumnya orang-orang dewasa. Sentuhan kesadaran, kedalaman pengetahuan, semangat dan motivasi cinta dan kasih sayang, semuanya bisa menjadi energy bagi seorang anak untuk melakukan sesuatu yang melampaui usianya, dengan tetap pada karakter, keluguannya, dan kelucuannya sebagai anak-anak.

Hasan dan Husein Radiyallahu ‘anhumaa cucu Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah mengajari seorang tua yang belum tahu cara berwudhu yang benar. Karena kala itu keduanya masih kanak-kanak, mereka takut mengajarinya secara langsung. Keduanya lalu mencari cara, yaitu dengan saling bicara, dengan suara keras. Salah seorang dari mereka berkata, “Wudhuku lebih baik dari wudhumu.” Yang lain berkata “Tidak, wudhuku lebih baik darimu.” Lalu mereka bersepakat untuk meminta orang tua itu yang menilai wudhu siapa yang lebih baik. Maka mereka berwudhu dengan cara yang sempurna di hadapan orang tua tersebut. Setelah melihat wudhu kedua anak tersebut, dengan firasatnya orang tua itu paham bagaimana cara berwudhu yang benar dan sadar bahwa mereka bermaksud mengajarinya.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah, telah diizinkan berfatwa pada saat usianya lima belas tahun. Sebuah kehormatan yang tak di berikan kecuali kepada orang yang memiliki kematangan ilmu dan emosi. Sehingga semua tahu bahwa dia telah melakukan sesuatu yang telah melampaui usianya.

Di sekitar kita, tentu ada banyak anak-anak seperti pada sebagian kisah diatas; mengambil sebuah tanggung jawab dan peran yang melampaui usianya. Ada yang berjibaku mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarganya. Ada yang berperan sebagai pemimpin dan pembimbing untuk adik-adiknya yang ditinggal orang tua. Ada yang tak lelah berjuang dan tak berputus asa mengejar cita-cita, meski hidup dalam keterbatasan.

Dan pada edisi ini, sebagian dari mereka kita hadirkan disini. Kita berbicara tentang mereka, mengenal diri dan cerita mereka. Agar kita tidak mengecilkan perjuangan hidup mereka, dan agar kita memiliki kepedulian untuk meringankan beban hidup mereka serta tidak lupa belajar dan bercermin, bahwa ternyata anak kecil saja mampu, sedang kita hanya bisa diam atau lebih banyak mengeluhkan keadaan dari pada berjuang menyelesaikannya.[]