Kita tidak harus berpikiran sama
Untuk mencintai sesama

Setiap lelaki, perempuan dan anak-anak di Bumi terlahir merdeka dan sederajat dalam martabat dan hak. Kita semua BERSAUDARA di Dunia ini. kita memiliki akal budi dan kesadaran dan harus rukun satu sama lain.

“Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” -Al-Qur’an (49;13)-

Setiap diri kita adalah unik dengan cara kita msing-masing, kita semua diberkahi Tuhan dengan bakat yang berbeda-beda dengan cara berpikir yang berbeda-beda pula. Namun jangan sampai semua perbedaan itu membuat kita saling membenci satu sama lain.

Kita harus menerima dan merangkul semua perbedaan kita, karena perbedaan-perbadaan itu yang menjadikan kita manusia. mari kita duduk bersama dan berbicara, agar kita dapat memahami satu sama lain.

Lalu mengapa kebanyakan dari kita bertekad mendirikan satu jenis atau satu cara berpikir? Kenapa kita memerangi mereka yang tak sefaham dengan kita? Seharusnya daripada kita ‘berkelahi’ mengenai perbedaan-perbedaan kita, kita semestinya memperkenankan agama kita untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik dan itu dimulai dari diri kita sendiri.

Untuk memperbarui dunia yang konon sudah rusak ini, kita harus belajar untuk memperbaiki kondisi, karakter dan perbuatan kita. Untuk melakukannya secara efektif, kita harus belajar bersikap jujur kepada diri kita sendiri dengan harapan dapat mengenali diri kita sendiri dan berusaha unuk mensucikannya karena kita akan diadili menurut motivasi dan niat kita.

Jadi kita harus memahami kekuatan motivasi (niat) kita, dan belajar untuk menguasainya karena niat dan tindakan kita dibangun emosi tertentu

Kita digerakan oleh emosi :
– Hasrat/keinginan
– Iman/keyakinan
– Cinta/kasih sayang
– Antusiasme/gairah
– Belas kasihan
– Harapan

Atau emosi seperti :
– Kebencian
– Iri/dengki
– Keserakahan
– Dendam
– Cemburu
– Kemarahan
– Ketakutan

Dan semua emosi itu berlaku kepada setiap pemikiran,, niat, tujuan atau tindakan yang kita lakukan. Secara sederhananya, ketika kita belajar untuk membangun tujuan dan niat kita kepada emosi yang positif, maka kita akan dapat menyembuhkan dunia kita. Dan ketika kita membangunnya dengan (emosi) negative, maka kita akan membunuh kehidupan dunia kita.

Dunia kita membutuhkan cinta, pengertian, keyakinan, belas kasihan, antusiasme, harapan, romansa, hasrat yang lebih. Jika kita memperlakukan satu sama lain dengan kekuatan motivasi (penggerak) itu dan belajar untuk memperbaiki diri kita sendiri, agar tetap menjauh dari kekuatan penggerak negative. Maka kita dapat menjadi contoh positif bagi agama kita.

Sekali lagi kita harus menerima dan merangkul semua perbedaan kita, karena perbedaan-perbadaan itu yang menjadikan kita manusia. Namun apapun yang kita yakini atau dari mana asal kita, kita semua berbagi prisip moral dasar kebaikan, itulah titik temu yang harus kita bangun bersama.

“Tidak ada diantara kalian, yang akan menjadi orang yang beriman, hingga ia mengharapkan bagi saudaranya apa yang diharapkan bagi dirinya sendiri”
-Nabi Muhammad Shallallahi Alaihi Wassalam-

“janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah engkau menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, kasihi tetanggamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri, akulah Tuhan”
-Taurat (19:18)-

“Perlakukan orang lain, seperti yang kalian harapkan meraka akan memperlakukan kalian”
-Yesus-

“Jangan menyakiti orang, sebagaimana itu akan menyakiti dirimu”
-Udana Varga (5:18)-

“Ini adalah kesimpulan dari dharma (kewajiban), jangan melakukan sesuatu pada orang lain yang akan membuatmu sakit jika dilakukan kepadamu”
-Mahabrata (5:1517)-

“Jangan memperlakukan orang lain, yang akan membuatmu marah jika itu dilakukan padamu”
-Socrates-

Pesan-pesan diatas adalah beberapa kebenaran berbeda namun satu titik temu yang sama. Mari duduk bersama, tertawa, berbicara dan berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan, jenis agama dan aliran maka kita akan menemukan satu titik temu yang sama yang tak terbantahkan. Kita semua bersaudara di dunia ini.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”-Al-Qur’an (60:8)-

Bagi saya, semua muslim adalah saudara saya dalam islam dan semua non- muslim adalah saudara-saudara saya dalam kemanusiaan. Perlakukanlah satu sama lain dengan sopan dan rasa hormat dan memahami bahwa tindakan ekstrisme adalah salah.

Namun jika kita memang belum sanggup atau belum bersedia untuk saling membantu atau salang mencintai antar sesame, mengapa tidak kita coba saja untuk tidak saling membenci dan dan tidak saling menyakiti saja terlebih dahulu?

Kita tidak harus berpikiran sama
Untuk mencintai sesama

Harits
Dari Berbagai sumber dan film documenter The Arrivals dan Phase 3
www.haritsaja.wordpress.com