dari Milis ForumPembacaNebula ESQ 165

semoga bermanfaat.. .
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari,
dan bulan apabila mengiringinya,
dan siang apabila menampakkannya,
dan malam apabila menutupinya,
dan langit serta pembinaannya,
dan bumi serta penghamparannya,
dan jiwa serta penyempurnaannya,
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya
sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya
(Q.S. As Syams 1-10 )

Mengapa Allah berfirman Demi matahari … dst, demi langit dan seluruh binaannya .. dst,

demi bumi serta penghamparannya … dst, dan jiwa beserta penyempurnaannya ?

Karena kesemuanya itu sudah pasti senantiasa bertasbih kepada Allah, tidak punya pilihan ( tidak diberi kebebasan ) semua berthawaf berdasarkan orbit yang sama, bulan mengelilingi bumi, bumi thawaf pada porosnya, 9 planet thawaf mengelilingi matahari, keluarga matahari bersama jutaan matahari lainnya mengelilingi Galaksi Bima Sakti,
Galaksi Bima sakti bersama trilluns galaksi lainnya mengelilingi Super Galaksi,

Trilliuns Super Galaksi thawaf mengelilingi Super Cluster. Trilliuns Super Cluster thawaf ke yang lebih besar hingga ke Pusat Alam Semesta Langit Pertama.

Sistem Langit Pertama bersama Langit-Langit lainnya ber-thawaf ke Pusat Alam Semesta Sistem Langit Kedua demikian seterusnya hingga Pusat Alam Semesta Sistem
Langit ketujuh, Pusat dari segala pusat Orbit adalah Arsy Allah yang dikelilingi para malaikat berthawaf mengelilingi Arsy Allah sambil berucap : “Alhamdulillahirobb il ‘Alamin”..

“Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling ‘Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”. ( Q.S. Az Zumar: 75)

” Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, Kemudian dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya) , menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) , supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” (Q.S. Ar Ro`du :2)

” Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Al-Isro` : 44)

Demikian juga dan jiwa serta penyempurnaannya, itu adalah ruh manusia yang suci karena mengandung sifat percikan Ruh yang ditiupkan Allah didalamnya, ikut bertasbih sehingga menyebabkan manusia cenderung kearah kebaikan, senantiasa merindukan sifat-sifat Asma’ul Husna serta membelanya apabila sifat-sifat tersebut ada yang merusaknya.
Maka apabila Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, dan Telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (Q.S.Al-Hijr : 29)
Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi.”

Katakanlah: “Kepunyaan Allah.”
Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang . Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman.” (Q.S. Al An’am:12)

Dari Q.S. Al An`am 12, terlihat bahwa Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih saying dan Allah Telah berjanji sebagai kemurahan-Nya akan melimpahkan rahmat kepada mahluk-Nya. Oleh sebab itu semua yang ada dilangit dan dibumi ber-thawaf mengorbit pada ORBITAL KASIH SAYANG.
Inilah esensi dari ucapan “Atas Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang”, sebelum kita memulai sesuatu aktivitas, karena kita dan aktivitas yang akan kita kerjakan, berada didalam “Orbital ( Pelukan ) Kasih Sayang” Nya.

Bumi dan langit itu tidak bebas berkehendak, senantiasa bertasbih kepada-Nya. Jika ada yang tidak bertasbih kepada-Nya, upama planet Mars menceng 1 derajat saja, yang akan terjadi adalah tabrakan, kehancuran alam semesta.

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”

(Q.S Al Israa’ 44)

Hanya kepada Allah-lah sujud segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (Q.S Ar Ra’d :15)


Manusia merasa damai dan tenteram kalau jiwanya “satu suara” dengan jiwa serta penyempurnaannya, atau jiwanya satu suara dengan ruh suci yang ditiupkan Allah. Namun kalau tidak, misalnya jiwanya tidak jujur, maka jiwanya akan gelisah dan tidak tenteram. Karena apa ? Karena kalaupun jiwanya tidak sujud, namun dengan terpaksa bayang -bayangnya di waktu pagi dan petang hari yang bersujud kepada-Nya.
Artinya, kalaupun jiwanya tidak sujud, namun jiwa serta penyempurnaannya ( ruh yang ditiupkan Allah ) yang bersujud kepada-Nya.

Matahari, bumi, bulan, siang, malam, langit beserta binaannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ruh) sudah “dipastikan” bertasbih kepada-Nya. Namun manusia lain, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

Allah memberikan kebebasan/kemerdeka an/kehendak kepada jiwa manusia dua pilihan, yaitu :

1. Jalan ketakwaan : yaitu jiwa orang yang mengikuti sifat Ruh Allah yang ditiupkan kepadanya

—> beruntunglah orang ini karena mengikuti thawaf alam semesta, jiwanya patuh bersujud mengikuti ruh sifat-sifat Allah dalam Asmaul HusnaNya, manusia sholat, bertasbih, berpijak diatas bumi mengikuti thawafnya sistem alam semesta mengelilingi Arsy Allah.
Hidupnya selaras dengan hukum-hukum Sunatullah —> manusia bahagia di dunia, dan bahagia di akhirat.
Seperti halnya sistem alam semesta terikat oleh Gravitasi Langit, yang mengikat agar tetap pada Orbitalnya, demikian juga manusia yang memilih jalan ini, berpegang kepada “buhul tali” (seperti Gravitasi) yang amat kuat yang tidak akan putus. ” sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,” (Asy-Syams : 09)

Tidak ada paksaan untuk agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “. (Q.S. Al Baqarah 256 )

2. Jalan kefasikan : yaitu jalan orang yang mengingkari sifat Ruh  Allah yang ditiupkan kepadanya

—-> rugilah orang ini, karena hidupnya bertentangan dengan fithrah artinya dirinya tidak bersujud namun bayang-bayangnya berkecenderungan bersujud kepada Allah, dia mengabaikan suara hati nurani yang sudah commitment kepada Allah untuk berbuat jujur, dsb, dsb. Dirinya tidak sholat, padahal bumi tempat dirinya berpijak masih bertasbih mengikuti thawaf alam semesta mengelilingi Arsy Allah.
Hidupnya tidak selaras dengan hukum-hukum sunnatullah —-> terjadi krisis, kehancuran pada “dunia”nya, lingkungan serta masyarakat bisa terkena imbasnya, selain itu juga kehancuran pada “akhirat” nya … Na’udzubillahi min dzaalik.
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (Asy-Syams : 10)

Namun, janganlah berputus asa kepada rahmat Allah, karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah mengampuni orang-orang yang mohon ampun kepada-Nya dan tidak mengulangi perbuatannya.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Az Zumar: 53)

..Astaghfirullaah al adziim. Alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiik…. .

Semoga shaum kita bisa mengembalikan kepada fithrah kita sebagai
manusia, sehingga kita tidak malu ketika dipanggil Allah swt.

Wassalamu’alaikum wr. wb.