Kisah Bocah Misterius Menyambut Bulan Ramadhan


Siaran ulangan, meski dikategorikan dongeng, mungkin ada baiknya kita
ambil hikmahnya terkhusus di bulan Ramadhan ini…

________________________________

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia
mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya,
menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini
bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan
kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang
tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa,
lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik
es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung
melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari
pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan
haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang
melihatnya. Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena
kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung
itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu.
Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan
memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti
isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu
kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang,
bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang
menyeramkan.

Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya. Luqman memutuskan akan
menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap
bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan
muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan
muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak
lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari
dengan menyeruput es kelapa itu.

Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin
meminum es itu juga. Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu
tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot,
seakan-akan matanya akan keluar. “Bismillah.. .” ucap Luqman dengan
kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia
berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek
keterangan apa maksud semua ini.

Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari
keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu. Mendengar ucapan
bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman.
Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan
membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda
tanya dari orang-orang yang melihatnya. “Ada apa Tuan melarang saya
meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini
kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman,
seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.

Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. “Maaf ya, itu karena kamu
melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu
tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan
lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”
Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak
itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap
Luqman lebih tajam lagi.

“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian
yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu
mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering
melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya
dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan
melupakan kami yang sedang menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat
mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan
kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah
juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk
menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan
maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?” Bocah itu
terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas
dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.
“Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa
berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada
makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang
siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah
yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya,
lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Bukankah
kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar
biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya
dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri? Tuan.., sebelas
bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan
Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah
yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa
terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan
adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti
kami…! Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta?

Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan..,
sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan
tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?
Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan
hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah
Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa
aman lantaran kaki masih menginjak bumi.

Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan
pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah
menyatu dengan bumi kelak….” Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala
dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah
kecil itu tanpa bisa dihentikan. Dan hebatnya, semua yang disampaikan
bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman,
bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan
tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang
dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.
Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian
jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang
bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu. Di tengah deru
nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi
semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran
didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah
Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah
menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik
ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur.

Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini
bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang
dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang
berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita
ingat..

Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka
yang tidak memiliki penghidupan yang layak. Bocah tadi juga memberikan
Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang
sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang
kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan
mempertontonkan kemewahan yang berlebihan. Marilah berpikir tentang
dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan
kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang
luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata
hatinya. Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya
orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama
bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua
orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang
menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang
terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya.
Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang
betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang
yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Mailist

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s