Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

Tidak semua orang yang berbicara tentang Allah SWT sampai pada tahap mampu menggugah dan mengubah, karena bisa jadi ia lebih sekadar “pamer”; ingin mendapat pengakuan orang lain. Jadi, jika ada orang yang berbicara tentang Allah, Al-Quran dan Sunah Rasul Saw, tetapi tidak ada dampaknya terhadap diri dan lingkungannya, berarti ada “sesuatu” di hatinya yang menjadi hijab penghalang dirinya dekat dengan Allah SWT, sehingga pembicarannya terasa hampa, dan pengaruhnya tidak terasa.

Ada empat hal yang bisa menjadi pegangan untuk bisa mendatangkan pertolongan Allah agar pembicaraan kita bisa menggugah dan mengubah:

1. Penuh keyakinan kepada Allah SWT, sehingga ia memiliki kekuatan untuk bisa meyakinkan orang lain; tidak perlu ada rekayasa.

2. Ia pun sudah mengamalkan apa yang disampaikannya. Jangan sampai menjadi orang yang seperti disinggung oleh Allah SWT :

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Betapa besar kemurkaan di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff : 2-3).

3. Ikhlas, menjaga niat. Sungguh, Allah mengetahui isi hati, jadi berbicaralah tidak berharap apapun, kecuali  hanya berharap ridha Allah.

4. Bersih, pembicaraannya tidak ada kesombongan, ujub atau merasa diri lebih dari orang lain, bukan untuk dinilai orang, dan yang sejenisnya.

5. Kurangi pembicaraan yang tidak perlu, jika harus berbicara, bicaralah dengan lurus, jika tidak, maka gampang dimuati unsur-unsur kebohongan, karena antara hati, pikiran, dan perbuatan tidak cocok.

6. Sebelum berbicara, pikirkan dan pastikan apakah perlu dan penting hal itu disampaikan, karena setiap pembicaraan ada resikonya. Kalau akan berbicara harus benar-benar disaring, tidak semuanya harus disampaikan. Banyak bicara berpeluang banyak tergelincir, banyak tergelincir berpeluang banyak dosa, banyak dosa akibatnya bisa masuk neraka.

Kita sering menganggap diri hebat, karena terkenal atau populer, padahal sesungguhnya yang hebat itu jika Allah ridho kepada kita. Rasul saw berbicara bukan untuk mencari perhatian seseorang, tapi mencari ridho Allah, sehingga berbobot, menggugah dan mengubah.

Di antara ciri-ciri kebaikan Islam seseorang adalah terhindar dari hal yang sia-sia, sangat serius untuk menjaga dirinya, karena setiap gerak-gerik, ucapan dan tindakan, sekecil apapun, ada hitungannya di sisi Allah,

Bagi orang yang beriman, berbicara adalah amal sholeh, jika bicaranya dengan niat ikhlas dan bisa dipertanggungjawabkan, membuat ingat kepada Allah SWT, menambah ilmu, penuh hikmah dan solusi.

Yakin hidayah dari Allah SWT, jika berbicara untuk ceramah yakini bahwa ceramahnya bukannya yang memberi hidayah, Allah lah yang memberi hidayah, semua perubahan dari Allah. Yang berbicara adalah yang tengah diuji menjadi jalan bagi kebaikan umat manusia. Sibuklah meluruskan niat dan pastikan kebenaran yang disampaikan.
Sumber