Oleh Dea Tanyo Iskandar

Ada sebuah gagasan menarik tentang berpikir cepat. Idenya sederhana; tentang ada perlunya kita tidak terlalu lama berpikir dalam melakukan sesuatu. Dalam beberapa hal gagasan ini mungkin senada dengan teori Thin-Slice, yang dikemukakan Malcolm Gladwell dalam buku masterpiece beliau, Blink.

Berpikir memang baik. Makin banyak berpikir, makin baik. Dengan banyak berpikir kita banyak tahu, keputusan kita bertambah bulat karena pertimbangan kita cukup lengkap. Belum lagi susunan otak kita akan terlatih, sehingga dendrit-dendrit di dalamnya akan menguat dan bertumbuh.

Dan begitulah seharusnya seorang Muslim. Saya ingat Pak Warsito seorang ilmuwan muslim asal Indonesia yang begitu dihargai di Jepang, saat ditanya apa yang menjadi hobi beliau, maka dengan singkat beliau akan menjawab : berpikir!

Namun sayang, banyak dari kita yang kurang suka berpikir. Dan ini miris. Apalagi jika mereka menyandang status akademis, seperti mahasiswa misalnya. Mahasiswa Ga doyan mikir? apa kata dunia! Dalam konteks yang lebih luas, umat Islam seringkali mendapat stigma kaum yang kurang berpikir.

Padahal dahulu umat ini begitu kaya akan ilmuwan-ilmuwan namanya terus mengharum di tengah kancah sejarah. Ibnu Rusy, Ibnu sinna, Ibnu Khaldun dan masih banyak nama-nama besar lain yang telah menciptakan karya besar melalui buah pikiran mereka.

Di sisi ekstrim yang lain banyak pula yang terlalu banyak berpikir. Intensitasnya sedikit lebay.Mereka keliru memaknai proses berpikir. Sedikit-sedikit mikir.

Psikolog Sian L. Beilock dari universitas Chicago pada 2008 meneliti tentang pengaruh kesempatan untuk berpikir yang diberikan kepada pegolf pemula dan pegolf profesional sebelum mereka diminta melakukan serangkaian pukulan. Pegolf pemula dianjurkan untuk mengambil waktu sebelum mulai, sedang kepada para professional dianjurkan untuk segera saja melakukannya. K

Ketika pegolf pemula diminta untuk melakukan lebih cepat, pukulan mereka menjadi kurang akurat, tapi pegolf profesional justru sebaliknya: mereka menunjukkan pukulan yang prima ketika diminta segera memukul dan goyah ketika disarankan untuk lebih dulu mengambil waktu.

Terlalu banyak berpikir memang banyak menggagalkan kegiatan yang memerlukan keahlian dan ketelitian; baik kegitan fisik maupun mental.

Anda dapat tersedak ketika berpidato didepan umum atau dalam seminar jika terlalu banyak berpikir untuk mencari kata-kata yang lebih tepat, salah menendang bola karena sibuk berpikir kearah pemain mana bola sebaiknya diberikan.

Atau gagal menerbitkan artikel karena terus-menerus dibaca ulang dan diperbaiki sampai akhirnya dibatalkan karena kecewa. Untuk yang ini, saya sendiri pernah jatuh bangun mengalaminya.

Begitulah. Terlalu banyak berpikir telah menggagalkan kreasi, menggangu inisiatif dan melemahkan motivasi, meskipun proses berpikir semula kita pahami sebagai mekanisme pertahanan untuk menghindari kegagalan.

Menurut sebuah artikel dalam Scientific American, mencoba berkonsentrasi untuk memantau kualitas kinerja kita sendiri adalah kontraproduktif karena otak kecil kita, yang mengatur gerakan yang komplek tidak mungkin kita akses dengan sadar dan disengaja. Karena terlalu banyak berpikir bukan bawaan lahir dan terbukti berbahaya, dan sebaiknya dihindari.

Berhentilah menunggu kesempurnaan. Kerjakan saja niat yang sudah dipertimbangkan. Jangan terlalu banyak asumsi, tinggalkan teori, segera bertindak. Rasakan takut tapi tetap lakukan! Jangan biarkan rasa takut membajak potensi atau melumpuhkan hidup anda!

Memang ada masa dimana berpikir sangat diperlukan untuk mengambil serangkaian keputusan. Namun juga ada saat – saat dimana untuk sementara kita harus menarik tuas BLINK!- Yaitu saat dimana kita berpikir tanpa berpikir. Maksudnya?

Gladwell menjelaskan dalam penelitiannya, bahwa manusia hakikatnya mampu berpikir cepat, karena telah memiliki banyak informasi dan rekaman pengalaman yang siap untuk diakses dalam otaknya.

Semua itu dapat menjadi referensi. Hal ini senada dengan yang disampaikan Dan Plutarch, seorang pakar otak. Pikiran kita, ujar beliau bukanlah wadah yang harus diisi, melainkan api yang harus dinyalakan. Otak kita hanya perlu percikan kecil dan cepat untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang brilian.
Sadar tidak sadar, banyak dari kita sibuk berpikir, serta kuatir dalam mengemukakan gagasan. Kuatir salah, kuatir keliru, dan kuatir ini, itu. Padahal tak ada yang namanya gagasan salah, adapun gagasan yang salah, kata Einstein, adalah gagasan yang tidak disampaikan.

Banyak orang berpikir, nyatanya tak kunjung menghasilkan ide. Banyak orang memiliki ide, nyatanya tak kunjung berbuah aksi. Imbasnya, mereka dengan pikirannya tak pernah beranjak kemana-mana. Padahal jelas, bahwa nothing action, Nothing happen!

Seorang Muslim sepatutnya mampu berpikir cepat, tajam, dan brilian. Ia mampu mencerna masalah, kemudian lekas mengambil keputusan. Ia problem solver, bukan problem maker. Dengan pikirannya, ia menjadi trendsetter, bukan follower.

Seorang muslim juga harus mampu belajar tepat, berpikir cepat, serta bertindak bijak. Dengan begitu tak ada lagi yang menyangsikan kualitas seorang muslim, karena kapasitas dan cara berpikirnya jauh di atas orang kebanyakan.

Hingga mereka menjadi sosok yang disebutkan Umar radhiallahu ‘anhu saat menaklukan Romawi, “Satu orang diantara mereka setara dengan seribu laki-laki.”

Berpikir? Yes!
Teralu banyak berpikir? NO!

Sumber