Beberapa bulan terakhir geliat dan gemuruh suara-suara diberbagai pelosok saling bersautan dan mengharapkan bahwa suara merekalah yang paling layak didengar dan diberikan kepercayaan untuk mengemban jabatan bisnis pemenuhan kehidupan mewah dalam sekejap.

Terdengar sayup-sayup suara dari pelosok perkampungan, mengaum bak harimau sumatera yang gagah perkasa pembela kaum lemah yang menasbihkan dirinya untuk menjadi pembela kaum papa…..namun suara-suara itu sama saja dengan mereka yang berangan-angan dalam hegemoni kekuasaan, harta dan segala hedonisme dunawi semata.

setetelah berlalu dua pekan pesta penghamburan celoteh-celoteh janji-janji tak bernyawa dan uang beterbangan bak kupu-kupu musim semi berbagai warna, geliat manusia berkumpul dimana-mana demi memenangkan jagoan mereka, menghabiskan malam-malam yang senyap ditepi dan teras rumah para calon yang katanya mewakili suara-suara rakyat.

kini suara-suara bising itu mulai sepi, senyap, dan dinginnya malam seolah menjadi teman abadi. memang inilah dunia yang sesungguhnya,  mereka yang kemarin bersuara lantang bak harimau sumatera kita tertunduk lesu, tidur tak bisa, makan tak enak kupu-kupu yang beterbangan entah kemana tak tau rimbanya yang adalah hanyalah wajah-wajah nestapa meratapi kegagalan setelah begitu royalnya berbuat dengan harapan imbalan yang setimpal ternyata tuhan berkata lain. “mungkin ini bukan hak kalian atau tuhan sendang menjaga kalian agar tak berbuat yang lebih buruk lagi”.

Sebagai catatan : ” hari ini kalian menang dengan uang dan kekuasaan kalian suatu saat kalin akan menderita karenanya”

 

Celoteh belaka melihat realita